Marketing Entrepreneur

Posted by on Oct 27, 2012 in marketing | 9 comments

Bertepatan dengan hari Blogger Nasional ini saya kembali “memaksakan” diri untuk menulis.  Ya, Menulis! Suatu hal yg kemarin-kemarin sangat sulit saya lakukan. Bukan karena “miskin” materi apalagi sampai kering inspirasi, hanya saja memang sulit menemukan waktu untuk kemudian merefleksikan segala yang berputar dinalar dan pikiran saya. Maklum, saya menjalani duble work selain sebagai Marketer disebuah perusahaan Asing berskala international , di Bali. Saya juga kerap menjadi Marketer bagi kegiatan bisnis saya sendiri dan itu cukup menyita waktu dan energy saya. Baiklah, kali ini saya akan berbagi kembali mengenai salah satu bahasan menarik dari dunia Bisnis dan Marketing.

Kali ini saya akan membahas mengeni “Marketing Entrepreneur” .  Jika merujuk pada asal kata dari kedua term tersebut, keduanya punya “kekuatan” tersendiri (meski diartikan secara sendiri-sendiri), apalagi jika kedua kata tersebut digabung, jelas memberikan sebuah “nilai tambah” yang cukup kuat dan inspirasional bagi siapapun yang mampu menelaah nya.

 

Masalah Pokok

Diakui atau tidak, kewirausahaan yang sekarang kita bangun adalah kewirausahaan berbasis “tanah subur”. Bahkan karena terlalu subur, produk apapun bisa kita dapatkan disini. Dan bangsa ini cukup menunjukkan kreatifitas yang tinggi. Terbukti dengan adanya karya seni berupa; manik-manik, batu akik, emas, perak , kulit, kayu. Pokoknya sebut sajalah apa yang mau dicari, pasti ada.

Di negeri ini pula bahkan sampah bisa dijadikan lahan bisnis. Bisnis preman juga. Bahkan segala macam bisnis, mulai dari yang memiliki resiko terendah sampai yang beresiko sangat tinggi. Namun ada satu hal yang cukup disayangkan, yaitu bahwa yang disebutkan diatas semua itu bermula dari produk. Yaitu mengenai “apa yang bisa kita buat” atau “apa yang akan menjadi produk saya”. Wirausaha produk mengurus banyak hal, banyak mata rantainya.

Anda tentu tahu apa masalah yang dihadapi wirausahawan-wirausahawan produk ini ? Benar ! Mereka kemudian mengeluh, “pemasarannya bagaimana?” Kok, pembeli yang ditunggu-tunggu tidak datang-datang. Atau, “kok ,ternyata sulit menembus pasar?”

Jika diteruskan, daftar keluhannya akan panjang. Mulai merugi, merasa tertipu, bahkan merasa diperlakukan tidak adil sampai seretnya penjualan. Itulah kewirausahaan berbasis produk. Wirausahanya fokus pada sisi sebelah kiri; fokus pada produk. Begitu masuk pasar, energy yang dibutuhkan akan sama besar, namun sudah terkuras dan tercurah semua pada tahapan penciptaan produk.

Dunia yang terus berubah memang tidak sesederhana saat wirausahawan muda kita masih anak-anak.  Dunia masa lalu yang diwarnai oleh sistem usaha terpadu-mulai bahan baku, proses produksi hingga pemasaran- sekarang sudah berakhir. Dan masing-masing memiliki jago nya sendiri-sendiri. Disektor riset, ada pelakunya; Product Development.  Di sektor dstribusi ada Supply Chain specialist. Begitupun disektor pemsaran, ada Market and Business Development. Masing-masing sudah melepaskan diri dari satu mata rantai yang (dulunya) panjang.

Jadi, Anda harus memilih. Mau jadi wirausaha apa ? Wirausaha produk atau wirausaha pemasaran ? Wirausaha berbasis riset atau penelitian ? Demikianlah seterusnya. Dan, karena Indonesia ini Negara kaya raya, terbelenggulah kita pada satu fokus saja yaitu : produk.

 

Marketing Entrepreneur

Singapura adahal contoh Negara yang tidak bisa mengembangkan wirausaha produk karena keterbatasan sumber daya alamnya. Maka kemudian mereka memasuki dimensi kewirausahaan pemasaran, kewirausahaan trading, kewirausahaan keuangan dll. Produknya bisa dari mana saja, dari Indonesia, dari Tiongkok, dari Myanmar atau India dsb.

Titik awal berpikir mereka bukanlah produk. Melainkan pasar. Pasar mau apa, lalu dibangunlah jaringan pemasaran dengan segala perlengkapannya. Mulai keuangan dan perbankan, branding, packaging bahkan sampai logistic atau supply chain. Setelah itu semua jadi, variable yang lain hanya tinggal mengikuti dan menyesuaikan.

Seperti jaringan ritel Carrefour atau Giant, mereka sebenarnya tak perlu modal besar. Produk-produk yang mengisi setiap rak jaringan ritel itu adalah titipan dari entrepreneur produk yang dibayar diatas kredit 30 hari. Pemilik-pemilik produk itu pun dikenai bebagai biaya untuk sewa tempat, rak, promosi dan seterusnya.

Ada sebuah cerita inspiratif dari seorang teman pengusaha Bakery di Bali yang bertransformasi dari seorang product entrepreneur menjadi seorang marketing entrepreneur . Awalnya, mereka membuat kue dirumah, lalu dititipkan ke tokot-toko. Lama lama mereka punya pesanan rutin dan tidak bisa dikerjakan sendiri, lalu pesan ke orang lain. Ternyata, pesan bisa lebih murah. Mereka mulai menyebarkan pesanan dan berhenti berproduksi. Lambat laun mereka bisa membeli toko di beberapa pasar. Tokonya menjadi petitipan kue juga dari beberapa produsen. Sekarang mereka bahkan sudah memiliki jaringan toko dihampir semua area Bali dan menguasai rantai pemasarannya.

Tahukah Anda, resiko menjadi wirausahawan produk ternyata lebih besar dari wirausahawan pemasaran. Dan saya nilai inilah masalah terbesar kewirausahaan Indonesia. Ayo kawan muda, bangkit dan ber-alihlah menjadi Marketing Entrepeneur!

 

 

 

9 Comments

  1. pertamax dulu hahaha

    • Wah.. cepat juga Kang.. kemarin udah kopi. Sekarang yg lain aja gift nya yak. Pokoknya khas Bali deh :D

    • Apapun saya terima bli.. hahaha

      • Bha ha ha.. #gampangan :p

  2. eaaaa… gagal pertamax nih. huhuhu xD

    • wooow, lama banget bli rentang posting lama sama yg baru ini. hehe.

      • Iyaa Van. Benar-benar sempat hibernasi, beberapa bulan ini. Sibuk (ceritanya) :D

    • Ciyan dech Kamooooo :P

  3. Lama tak berkunjung dan sepertinya Bang Andy juga lama tak meng-update…padahal ilmunya bermanfaat lho bagi marketer newbie kek saya dan teman-teman lainnya..

    Yang pasti kalau seperti saya pribadi marketing entrepreneur terlihat lebih menarik dan tidak akan pernah mati gaya karena product yang kita jual banyak sekali kan macamnya…
    Dan alangkah baiknya kalau didukung dengan “trust”.

    Salam Bang…
    Update lagi dan bagi-bagi ilmunya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>