Eat , Pray , Business and Marketing

Posted by on Nov 20, 2010 in marketing | 28 comments

Menjelang akhir tahun seperti sekarang ini, banyak dari kita yang “dikejar” dead line mengenai  resolusi resolusi yang pernah terucap di awal tahun 2010 lalu. Tapi saya pikir ini masih bagus lho. Parahnya ada sebagian dari kita yang justru “terkesan” santai terhadap resolusi yang pernah terucap, malah bersiap untuk “mengikrarkannya” lagi di awal tahu depan – sebenarnya dengan inti yang sama namun kemasan bahasa yang berbeda – .  Banyak rangkaian pengalaman pengalaman hebat dalam hidup saya setahun ini. Saya “dipertemukan” takdir dengan orang orang yang saya bisa belajar banyak dari mereka. Ini juga yang mendorong saya untuk terus belajar dan menjadi “gelas kosong “ setiap bertemu dengan para professional yang  begitu tinggi nya integritas mereka terhadap bidang bisnisnya masing masing .

Setelah beberapa minggu lalu saya sempat terlibat dalam sebuah obrolan santai dengan para praktisi dan pebisnis yang telah lama berkecimpung di bidangnya masing –masing, setidak nya ada beberapa kesimpulan yang bias kita petik pelajaran :

Berhati-hatilah  terhadap Over Confident

Ketika Brand bisnis kita telah dirasa kuat maka jangan Over Confident, sebab ini bias menyebabkan segala “kepekaan” bisnis kita menjadi berkurang,terutama kepekaan terhadap kesalahan – kesalahan internal. Masalah Branding sebenarnya bukan hanya 100 persen peroalan Bisnis, namun juga menyangkut “representasi” psikis pebisnis itu sendiri. Kondisi Over Confident terkadang “menjebak” seseorang pada tahapan tidak lagi menganggap kritik dan masukan itu adalah sesuatu yang penting. Disinilah salah satu bahaya yang timbul atas sikap Over Confident .

Belajarlah menjadi Surfer !

Tidak ada Bisnis yang dibangun dalam waktu satu malam,semua memang butuh proses yang panjang dan terkadang kita dihadapkan pada banyak Resiko-resiko Bisnis yang bisa datang dari berbagai arah. Disinilah pentingnya kita untuk menjadi Surfer yang handal dan bias “bermain” dan “menaklukkan” ombak ombak yang menerjang Bisnis kita lalu bersiaplah dan selalu siaga bahwa didepan kita mungkin aka nada ombak yang lebih besar lagi yang perlu kita hadapai. Pebisnis yang yang paling berhasil bukanlah pebisnisyang menempatkan dirinya terlalu tinggi sehingga menjadi sombong, bukan pula yang menempatkan dirinya terlalu rendah sehingga menjadi minder.Tetapi pebisnis yang berhasil adalah yang cita-cita nya menyentuh surga namun kakinya tetap menapak bumi.


Menghargai Kearifan Lokal

Menarik sekali memang jika kita bicara tentang Bali , sebuah pulau yang saya tinggali dan memberikan banyak sekali pelajaran – pelajaran berharga yang belum pernah saya dapatkan dari study dimanapun. Saya banyak sekali berteman dengan penduduk lokal yang masih sangat menjaga ke-arifan lokalnya. Ini juga yang ternyata menjadi magnet yang sangat kuat bagi para pelancong dari berbagai penjuru dunia untuk dating dan merasakan taste of Bali. Konsep marketing di dunia barat memang bagus, tapi itu untuk orang barat. Belajar dari ilmu barat boleh saja, tapi harus percaya pada “wisdom- wisdom” lokal. Harus pakai ilmu lokal dan mengerti situasi lokal dimana kita berpijak. Pebisnis harus pandai dalam melakukan  pemetaan terhadap anatomi terbaru kebudayaan, agar menjangkau pasar yang kian tersegmentasi di dunia pemasaran yang terus bergerak dinamis. Sehingga diharapkan sebuah Bisnis bias masuk kedalam segmen pasar yang lebih luas. karena memiliki potensi yang sangat besar, melalui product management, brand management dan customer management. Masing-masing segmen mempunyai sejak dulu mempunyai karakteristik tersendiri. Maka tugas Pebisnis lah untuk menjaga dan menemukan flexibilitas itu.

Mengikuti Perkembangan Teknologi

Sudah tidak bias kita hindari lagi point yang satu ini,teknologi merupakan sebuah keharusan kelangsungan hidup dalam sebuah Bisnis. Teknologi semakin membuat orang sensitif dan emosional. Dengan teknologi, memudahkan orang mengekspresikan emosinya. Misalnya dengan Facebook, chatting, SMS dan MMS, pasangan manusia yang terpisah jarak tetap bisa berhubungan setiap saat dengan cara berkirim SMS, chatting di internet. Dengan menambahkan webcam, mereka bisa secara langsung menatap lawan bicara nya seolah olah mereka sedang bertemu secara langsung.

Barengi Bisnis Anda dengan Spiritual Marketing

Ketika dunia baru saja menikmati teknologi dan masuk internetisasi, kita langsung seakan diingatkan, bahwa secanggih apapun teknologi yang kita gunakan. Namun, jika tidak dibarengi landasan spiritual, pada suatu saat akan runtuh juga. Inilah pentingnya kita juga “berstrategidalam menjaga kualitas spiritual kita. Kejutan besar dilakukan oleh Stephen R. Covey, penulis buku lagendaris The 7 Habit of Highly Effective People. Ia dipenghujung puncak karirnya sebagai konsultan kelas dunia menerbitkan buku baru, The 8 th Habit Effectiveness to Gratness, Covey akhirnya berkesimpulan bahwa faktor spiritual merupakan faktor kunci terakhir yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam suatu perusahaan.  Seorang pemimpin harus memiliki empat style, yang ia sebut “the 4 Roles of Leadership”, yaitu: Pathfinding (perintisan), Aligning (penyelarasan), Empowering (pemberdayaan), dan Modeling (panutan). Pada bagian akhir inilah Covey kemudian menyadari bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang bisa jadi panutan (modeling), seorang pemimpin haruslah memimpin berdasarkan prinsip. Orang lain akan percaya anda bila anda memahami dan hidup berdasarkan prinsip-prinsip, ‘Bulding trust with others’ . Pebisnis harus mampu menyatukan kata dengan perbuatan, dan pemimpin adalah orang yang layak dipercaya. Kata kunci untuk semua ini adalah kejujuran yang senantiasa menjadi bagian dari nilai-nilai spiritual.

Kehidupan yang spiritual adalah hidup dalam kelimpahan kasih, dengan cara yang membuat kehidupan semakin kaya bagi semua orang. Bagaimana kita dapat hidup dalam suasana yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan pengembangan diri sendiri, dengan lingkungan sekitar -masyarakat dan unit bisnis-, bila kita tidak dapat menghayati sesama.. Spiritual erat berkaitan dengan sumber dari sumber tindakan-tindakan kita. Bila kita memahami bahwa tujuan hidup adalah menjalin keakraban dengan Tuhan, maka tak akan terjadi perpisahan yang sesungguhnya antara kehidupan moral dan spiritual. Makna kehidupan yang kita cari, rasa lapar kita akan kasih serta keinginan untuk menjalin hubungan atau mencari pemenuhan, merupakan tanggapan terhadap Tuhan. Suatu bisnis, sekalipun bergerak dalam bisnis yang berhubungan dengan agama, namun jika tidak mampu memberikan kebahagian kepada semua pihak, berarti  belum melaksanakan spiritual marketing. Sebaliknya, jika dalam berbisnis kita sudah mampu memberikan kebahagian, menjalankan kejujuran dan keadilan, sesungguhnya kita telah menjalankan spiritual marketing, apapun bidang yang kita geluti. Persaingan dalam paradigma spiritual marketing adalah hal yang baik, karena persaingan turut membesarkan pasar. Jika kita sukses, berarti permintaan pasar terhadap penawaran kita juga akan membesar. Tentu saja kita memiliki keterbatasan-keterbatasan, sehingga tidak semua permintaan dapat kita penuhi. Nah permintaan pasar inilah yang nantinya akan dipenuhi oleh pesaing kita. Sedangkan spiritual marketing adalah puncak dari marketing itu sendiri, spiritual marketing as the soul of business , ia menjadi jiwa bagi suatu bisnis. Ia bagai pelita yang menerangi lingkungannya, memancarkan cahaya kebenaran, ditengah-tengah kegelapan. Membetulkan praktek-praktek pemasaran yang menyimpang, seperti kecurangan, kebohongan, propaganda, iklan palsu, penipuan, kedzaliman, dan sebagainya.

Sebenarnya marketing spiritual ini dapat kita laksanakan dengan optimal jikalau dalam segala aktifitas kita sehari-hari, kita menempatkan Tuhan sebagai Stakeholder. Inilah perbedaan pokok antar marketing biasa dengan marketing spiritual. Kita menempatkan Tuhan sebagai satu-satunya pemilik kepentingan (the ultimate stakeholder).

28 Comments

  1. Malam – malam dapat artikel super bagus neeh. Saya izin simpan dulu ya, buat bahan renungan nanti.

    • Selamat malam juga, semoga bisa mengispirasi dan bisa diambil manfaatnya..

  2. Bisnis juga sebuah seni, butuh berbagai sentuhan dari segala aspek.

  3. Keren Banget Bang…..

    Seharusnya boss baca ini, spiritual marketing..tapi tak apa akuduluyang baca nanti bisa aku transfer, heeeee

    Salam hangat-hangat kuku Bang,…

    • Semoga para Bos juga membaca postingan saya kali ini…

  4. ya..apapun yang dilakukan harus ditujukan untuk kepentingan puncak nilai spiritual yang lebih tinggi lagi..

    SALAM hangat dari Kendari… 8)

    • Setuju banget Bli – semoga sukses selalu di Kendari…

  5. spritual marketing… menempatkan Tuhan sebagai stakeholder, jarang sekali dilakukan oleh marketer.. sebenarnya kalo ini dipraktekkan dan Sang stakeholder ikut berperan bukan tidak mungkin bisnisnya akan lancar… Ingat Tuhan selalu, dia yang memberikan kita rizki

    • Semoga kita semua bisa tersadarkan dengan membaca artikel ini, saya pun belum apa-apa, masih perlu banyak berbenah diri…

  6. Bisnis yang bagus. hehe.

    Salam.

  7. nice artikel mas :)

  8. spiritual marketing. itu yang masih perlu saya benahi.
    makasih sharingnya.

    • Semoga menginspirasi Anda…

  9. suka suka suka banget postnya
    salam hangat dari blue

  10. tentang kearifan lokal, itu juga baru saya kampanyekan untuk lingkungan hidup bli! Tapi khusus spiritual marketing menyadarinya sekarang!

    • Terimakasih Mas Tony – semoga sukses dengan segala perjuangan kebaikannya…

  11. Sebuah fitrah manusia yang mau ga mau butuh akan sesuatu yang disembah, yang menciptakannya…

    • Setuju banget mas…manusia memang butuh sesuatu yang lebih tinggi dan lebih berkuasa untuk bergantung…

  12. hmmmm,…. asik nih di baca baca.. buat nambah2 semangka eh semangat…
    secara saat ini baru memulai bisnis jasa dan toko online

    • Semoga artikelnya bisa membawa manfaat buat Bunda…

  13. Kalo saya bukan overconfident, kadang terlalu minder :D

    • Semoga tidak selalu sering terjadi mindernya setelah baca artikel saya..

  14. “berdagang” dengan Tuhan pastilah menguntungkan :)
    itulah kenapa marketing spritual lebih powerfull dari pada ilmu marketing mana pun….

  15. waduh…. ketangkap satpam nih…. :)

  16. wah mantap tips tipsnya nih :)

  17. thanks yach tipsnya hehehe…

  18. Makan, shalat, bisnis…. menarik gan…

  19. terima kasih mas andry, artikel ini manjawab komentar saya di artikel kemarin. dan pemantapan spiritual di paragraf2 terakhir sungguh secara isyarat mengatakan bahwa spiritual dan marketing berujung pada Tuhan sebagai pusat stakeholder.

    luar biasa luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>