Pentingnya sebuah Etos Kerja

Posted by on Jun 19, 2010 in Bisnis | 23 comments

Di sebuah lembaga yang paling bergengsi di negara ini, semua karyawan di dalamnya tampak sibuk berlomba untuk memperbaiki kinerja, adu pintar, adu produktif, adu prestasi, juga berlomba meningkatkan gelar ke jenjang yang lebih tinggi, S2 bahkan S3. Gaji dan benefit yang diterima karyawan di lembaga itu juga sangat oke. Semestinya, karyawan happy di lingkungan yang sekompetitif dan seapresiatif ini. Kenyataannya, karyawannya mengaku tidak terlalu happy, merasa resah, merasa tidak ‘berisi’, tidak pede bila bertemu orang luar, walaupun ketidakpedean ini lebih banyak tersembunyi dibalik sikap arogan

Meski terlihat keren, juga produktif, namun bila individu yang bekerja dalam organisasi merasa ‘lelah’ dengan hubungannya dengan organisasi, tidak ‘cinta’ organisasi, tidak bangga dengan aturan main kantor, berarti ia sedang bekerja dengan ethos kerja yang rendah. Di organisasi dengan ethos kerja yang tinggi, kita akan merasakan bahwa karyawan umumnya lebih nyaman, lebih helpful, tidak membatasi diri, lebih sabar, lebih bisa berkomunikasi profesional dengan jelas tanpa memancarkan rasa ‘lelah’.

Ethos kerja sebenarnya adalah istilah popular untuk “selera bekerja”. Kita tahu betul bagaimana membedakan antara berselera makan dan tidak berselera makan, bukan? Nah, orang dan organisasi yang punya ethos kerja tentunya menunjukkan semangat untuk berkolaborasi, berdebat, berkomunikasi, berprestasi yang ‘tidak ada matinya’, sehingga secara nyata dapat memetik hasil yang riil dan memberi kontribusi bagi kemajuan organisasinya, juga bangsanya. Sementara, perusahaan dengan  ethos kerja rendah dapat segera terlihat dari adanya kesulitan kolaborasi, menebar gosip ke segala penjuru, absenteeism, serta tidak adanya inovasi.

‘Semangat’ bukan Segala-galanya

Rekan saya adalah seorang yang sangat bersemangat dan bergairah. Dia selalu beranggapan bahwa ia membangkitkan semangat tim, atasan bahkan teman-temannya. Belakangan, ia mendapat kritik dari berbagai pihak di tempat kerja. Kritiknya menyangkut kegemarannya bergosip, kinerjanya yang tidak jelas, janji janji yang tidak membumi, dan analisa serta strategi yang tidak terarah. Ketika Atasan menegurnya, ia berargumentasi:

Bukankah saya membangkitkan semangat teman-teman?” dan “Bukankah saya menyampaikan aspirasi teman-teman yang tidak bisa mereka utarakannya secara jelas kepada perusahaan?”.

Ini adalah contoh, di mana suasana kerja bisa tampak seolah bersemangat dan bermotivasi tinggi, tapi belum tentu menghasilkan kinerja yang produktif, efektif juga efisien. Jadi, semangat bukan segala-galanya bila kita merujuk ethos kerja tinggi.

Fokus pada “Self Esteem” Karyawan

Di sebuah perusahaan yang baru-baru ini mengadakan program                        job valuation, sebagian besar karyawannya mendapatkan kenaikan gaji sebagai hasil program ini. Meski di satu sisi hal ini menggembirakan, namun banyak sekali karyawan yang merasa ‘gamang’ dengan kenaikan gaji tersebut. Saya merasa tidak pantas mendapat gaji sebanyak itu, seorang karyawan berkometar. Karyawan lain berujar,Orang yang sepanjang hari chatting di kantor kok dapat kenaikan gaji segitu. Apapun latar belakangnya, yang pasti rasa gamang ini bukan rasa yang postitif.

Di lingkungan yang ethos kerjanya positif, karyawannya happy luar dalam. Di lingkungan seperti itu, biasanya karyawan merespek kebijakan perusahaan dan membela tindakan perusahaan. Tidak harus melulu soal menaikkan upah dan benefit, namun perusahaan yang ingin mencapai ethos yang positif sebenarnya bisa memperhatikan bagaimana karyawan “merasa” tentang jabatan, tugas, arah serta image perusahaan tempat ia bekerja. Karyawan bisa saja diberi tugas banyak dan diberi upah yang tidak nomor satu di industrinya, tetapi tetap merasa positif dengan pekerjaan dan jabatannya. Karyawan perlu tahu persis mengapa ia bekerja dan memangku jabatan yang berbeda dengan rekan kerjanya. Ia juga perlu tahu persis mengapa ia berbeda dengan rekan kerjanya dalam bobot tugas, jenis tugas bahkan sampai ke pengupahannya. Dan alasan tersebut perlu ia terima secara positif.

Penyadaran ini akan menyebabkan individu merasa leluasa dan “nyaman” berprestasi walaupun bekerja keras. Penyadaran ini pun perlu mencapai tingkat di mana individu tahu dan sadar mengenai potensi dan kompetensi sekaligus keterbatasannya. “Tidak semua orang harus di promosi”, “Tidak semua orang bisa jadi direktur”, tetapi setiap orang bisa memberi kontribusi yang banyak. Dan setiap orang bisa happy sesuai dengan level kompetensinya.

Trust Dibangun dari Transparansi

Keyakinan perusahaan bahwa karyawan harus mendapatkan kejelasan informasi dan karenanya perusahaan perlu mengupayakan transparansi kepada karyawan akan menyebabkan karyawan merasa dianggap sebagai ‘orang penting’ di perusahaan, dihargai dan direspek. Dari sinilah karyawan mempunyai energi untuk “memberi”, menservis, berkreasi dan berinovasi. Sebagai timbal balik dari nilai tambah yang diberikan karyawan, perusahaan pun bisa lebih banyak memikirkan ‘privasi’ individu, menepis gosip, meningkatkan keamanan, juga kesehatan jiwa dan fisik karyawan. Upaya saling memberi ini kemudian akan terasa sebagai lingkaran “malaikat” yang semakin lama semakin kokoh dan berenergi untuk menyulut ethos kerja ke level yang semakin tinggi.

23 Comments

  1. Artikelnya bermanfaat sekali buat saya, ney!

    • Silakan mengikuti artikel artikel saya selanjutnya…
      semoga semakin bisa menghadirkan manfaat untuk para pembaca..

  2. Betul mas, semangat bukan segala-galanya, jadi ingat waktu ikut MLM, waktu habis diberi training dan motivasi, sangat semangat tapi setelah 1 atau 2 hari kembali lagi,,,, sedikit sharing mas, pekerjaan yang kita lakukan menyenangkan bisa juga memberi motivasi, yang paling penting adalah kebiasaan dari alam bawah sadar kata tentang pekerjaan yang kita lakukan,,,

    • Terimakasih…. yang paling penting memang ” action “.
      tapi action juga bukan segalanya tanpa ” planning ” yang baik…

  3. salam super sahabat
    tulisan yang super sekali..

    like this..

    salam hangat

    • Terimakasih…
      semoga bisa menjadi sebagian pembangkit semangat teman teman semua…

  4. Artikelnya kerasa banget buat karyawan kayak saya :D…

    • Semoga bisa mengambil manfaat dari apa yang saya sampaikan diatas…

  5. Saya sudah lama bermasalah dengan kata ‘happy’ di tempat kerja saya mas.. Ada saran agar saya bisa kembali merasakan kata itu…?

    • Saran saya, jangan menyesuaikan diri dengan keadaan tapi temukanlah tantangan baru di lahan yang baru . Bisa jadi ini adalah signal dari alam agar kang Asep segera beralih pekerjaan,
      berani ?

  6. wew..setia berbagi ilmu bisnis :S

    • Semoga berguna bagi para pembaca….

  7. wehhh boleh juga tuh infonya
    semoga bermanfaat salam hangat……..

    • Silakan disimak dan diambil manfaat nya …

  8. Setuju mas.. Semangat dan ketekunan dalam mengerjakan sesuatu penting.. ^_^
    Salam…

    • Iya betul sekali…
      ketekunan memang bisa jadi modal utama dalam meraih kesuksesan…

  9. hmmm…ternyata bersemangat ga selalu baik ya

    • Lho… semangat itu baik..
      yang tidak baik adalah ” semangat ” yang tidak ” menyemangati”

  10. kalo etos kerja diganti dengan reward dan punishment gimana mas? cocok gak?

    • Cocok saja mas…
      bagaimanapun,etos kerja adalah aksi dan Punishment ataupun reward adalah re-aksi dari kualitas erja yang kita hasilkan….
      setuju mas ????

  11. artikelnya inspirational bgt mas..
    thx ya mas :)
    ditunggu tulisan2nya.. hehehe

  12. bener banget mas bahwa bekerja tidak hanya mengandalkan semangat tp ada niat dan tujuan
    salam kenal

  13. semangat kerja harus dimiliki sejak dini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>