Kenali Gejala Pelecehan Psikologis

Posted by on May 12, 2010 in motivational | 33 comments

Pernahkah Anda menghadapi otoritas, misalnya saja orang tua Anda sendiri, atasan, dosen, atau ketua tim dengan rasa enggan dan tertekan? Terkadang keengganan diwarnai juga rasa takut, rasa bersalah, merasa tidak berarti, tidak berharga, sampai-sampai tubuh seakan kehilangan energi untuk bicara dan tak punya ambisi untuk berprestasi. Hati-hati, mungkin tanpa disadari, Anda adalah korban pelecehan psikologis.

Saya pernah punya atasan, yang di dalam rapat kerap ’membuktikan’ bahwa anak buahnya ’lagi-lagi’ tidak berprestasi, dan ia sebagai atasan-lah yang ’lagi-lagi’ harus turun tangan menyelesaikan semua masalah. Lucunya atasan seperti ini sering sekali mengeluh dan heran karena bawahannya tidak bisa mengembangkan diri. Ia tidak sadar bahwa sikapnya mempermalukan bawahan di dalam rapat tanpa memikirkan ’muka’ bawahan, menyudutkan bawahan tentang kesalahannya, tidak memberi kesempatan bawahan membela diri dan bersikap seolah-olah kesalahan tersebut selalu dilakukan bawahan, adalah bentuk pelecehan yang sering menyebabkan karyawan tidak bisa mengembangkan diri, lalu jadi cuek dan akhirnya apatis.

Rekan bisnis saya, pernah bekerja dibawah seorang atasan yang dari luar terlihat baik dan ramah. Dengan bertambahnya pengalaman, ia tidak jadi semakin pede atau bertambah asertif. Wajahnya kerap tertekan dan seringkali saya melihat matanya berkaca-kaca tanpa alasan bila membicarakan sesuatu yang serius. Ia tidak berani mengungkapkan opininya secara gamblang dan selalu memohon maaf bila berpendapat. Yang mengherankan, setelah tidak bekerja untuk atasan yang lama, teman saya ini kemudian berbicara lebih lantang, lebih tegas dan lebih gembira. Ia mengakui bahwa ketika itu ia merasa tidak berharga dan sangat takut berbuat salah. Ia tidak sadar bahwa situasi ini sebenarnya adalah pelecehan psikologis.

Pelecehan psikologis menjadikan suasana tidak kondusif. Dan, semua orang setuju bahwa suasana tidak kondusif adalah kontra produktif. Selain karyawan merasa tidak happy dan jadi tidak optimal dalam berkinerja, gejala ini merupakan bahaya laten bagi organisasi, karena karyawan cemerlang yang tidak suka dengan suasana kerja yang tidak manusiawi akan pindah kerja. Sebaliknya, mereka yang butuh pekerjaan, rela untuk tinggal di perusahaan dan mengorbankan kesejahteraan mental dan perasaannya demi gaji bulanan.

Jangan Ulang Kesalahan
Ada individu yang terus-menerus jadi bulan-bulanan sekedar karena ia kurang gesit dalam berjalan. Ada juga atasan yang langsung ’mencecer’ individu yang pernah ketahuan bermain game di jam kerja. Kita lihat bahwa asal pelecehan psikologis tidak selamanya karena kurangnya kinerja. Berbuat salah itu wajar, tetapi membuat kesalahan berulang kali adalah tindakan yang ceroboh karena membuat Anda jadi ’terlihat’ dan berpotensi menjadi bulan-bulanan empuk. Sebagai individu, kita perlu berhati-hati dalam berkinerja. Jaga kesigapan, ketrampilan, pengetahuan, sikap dan nilai kerja anda kuat-kuat. Berpeganglah pada standar profesi yang dianut perusahaan tempat anda bekerja. Kita pun perlu memikirkan berbagai elemen pekerjaan lain selain pencapaian target, dan kepatuhan pada sistem dan prosedur.

Jangan Ragu Perjuangkan Hak
Bila sudah terkena pelecehan, pindah kerja memang bisa jadi jalan keluar singkat. Tapi, rasa dendam dan hubungan yang tidak baik, mau tidak mau bisa mencemari spirit kita untuk berkarir di kemudian hari. Bisa jadi tumbuh rasa penghargaan diri yang rendah dan tampil dalam bentuk ketidakpercayaan diri. Inilah sebabnya kita dianjurkan untuk senantiasa menjaga ’muka’ sendiri, walaupun posisi kita berada di hirarki paling bawah sekalipun. Selain berbuat dan berprestasi baik, kita selalu harus yakin bahwa kita mempunyai hak hidup, hak bicara dan hak di respek sama seperti mereka yang menduduki jabatan yang paling tinggi sekalipun.
Kita juga perlu bersikap optimis. Sekali bersikap pesimis, maka kita memberi peluang bagi orang lain untuk menginjak hak kita lebih jauh. Kita perlu belajar mengemukakan pendapat dengan cara positif. Apa kenyataan, pendapat, perasaan dan harapan Anda, perlu bisa kita sampaikan dengan gamblang. Tidak mampunya kita mengeluarkan isi pikiran dan hati kita inilah yang jadi peluang bagi orang lain untuk melihat kesalahan kita.

Ingatkan Atasan Tentang Emosi
Seorang teman berkata bahwa bila dalam rapat ada orang lain yang dilecehkan, ia merasa seperti ada di dalam rumah yang sedang cekcok. Suasana jadi muram, gundah tidak bersemangat. Hal ini bisa kita jadikan argumentasi saat mengingatkan atasan untuk tidak melakukan pelecehan psikologis. Suasana kondusif itu mahal harganya. Sekali suasana rusak, sulit untuk membangunnya kembali. Atasan juga bisa diingatkan bahwa fairness perlu dijaga, bukan saja dalam hal finansial, kesempatan, tetapi juga secara emosional. Atasan-atasan seperti ini perlu diingatkan kembali tentang apa yang kita pelajari sejak kecil, yaitu ada hal-hal yang menimbulkan rasa kecut, takut, sedih, kecewa dan tidak berharga.
Pada dasarnya semua orang tidak ingin berbuat jahat. Besar kemungkinan bila kita menggunakan bahasa emosi seperti ini atasan baru bisa menyadari bahwa dia sudah menyentuh area yang sebenarnya tidak ingin ia sentuh juga.

33 Comments

  1. mari berantas pelecehan…

  2. Bekerja dibawah tekanan memang tidak enak

  3. Masalah psikis bisa menjadi hambatan yang paling besar. Loyalitas pekerja bisa surut kalau terus-terusan di interfensi oleh lingkungan dan atasan.. Tapi ada juga yang bebal dan tidak memperdulikan hal itu.. Kerja ya kerja,, mau dimarahi ya silahkan..hehe..

  4. Aku dulu sering juga di marahin atasan, tapi ga aku pikirin.soale mang resiko jadi bawahan sih ga bisa berbuat apa2 :)

  5. Menghindari stress pekerjaan, dilingkungan kerja seharusnya bekerja sesuai prosedure dan tugas, sekali-kali di situasi yang tepat usul perombakan prosedure yang lebih bagus… sebagai senjata menuju posisi yang lebih baik.

  6. berkunjung mas,salam super..!!

  7. yg namanya pelecehan apapun bentuknya musti kita lawan bung…

  8. Hmm sebaiknya yang sudah membaca artikel ini menjadi sadar, bahwa jangan suka melecehkan orang lain. Baik yang sudah menjadi atasan pun, harus mengingat bahwa dahulu sebelum menjadi atasan dia juga pernah pada posisi bawahan.

    Diatas langit masih ada langit yang lebih tinggi. :)

  9. Aku juga sering dulu dapat sinis dari boss…, tapi aku cuek
    akhirnya penilaian jadi sinis juga…

    Alhamdulillah aku akhirnya bisa menemukan keadilan.

  10. harus selalu semangat!

  11. waaahh maav baru sempet mampir yaa,,,

    btw nice post,, emang harus begitu yaaa,, biar aja mereka sewot yang penting kita kerjanya bener,, wekekek

    btw,, pengen deh ke bali,, ntr kalo ksana bisa dong jadi tour guide,, hehehe baru kenal udah mulai ga sopan,,, wekeke

    salam kenal :)

  12. Pelecehan yang ini lebih bahaya juga…
    Bisa menghambat kreatifitas.

  13. ada tekanan tekanan tertentu yg kadang gabisa kita hindari. -__-

  14. hadapi kenyataan,,:D

  15. Kalo hati disakiti,terkadang badan juga ikutan sakit.
    pelecehan psikologis masih banyak terjadi.

  16. rasanya bentuk pelecehan seperti ini masih jamak terjadi
    dan sepertinya bukan hanya di indonesia ya

    memang menjadi sebuah dilema
    bagi yg berani bisa memilih untuk mencari “bos’ baru
    tapi bagi yang tidak berani?

    seperti yg mas andry bilang
    rela mengorbankan ‘perasaan’ demi gaji bulanan

  17. Catatan bagi pimpinan dan yang punya tanggung jawab atas kesejahteraan karyawan jangan semena-mena, perlakukan secara adil sesuai kondisi kerja! Bagi karyawan sabar dan perjuangkan hak anda dengan santun!

  18. Untungnya jika saya sedang rapat dengan para anak buah, saya tidak pernah melecehkan secara personnel.

  19. Saya suka artikel ini. Sedang memperhatikan keadaan saya sekarang, sepertinya saya juga mengalami pelecehan psikologis… karena jelas membuat saya emosi setiap mendengar bos saya bersuara :))

  20. salam kenal mas maafkan baru posting nih

    bagi temen2yang lainnya boleh bergabung ditempat
    saya
    http://www.hafidzcollection.blogdetik.com

  21. Salam kenal.
    Blogwalking di pagi hari.
    Jika terkait masalah hak dan kewajiban kita harus bisa memandang dari dua sisi yang berbeda. Thks sharenya.

  22. istilah cukup asing, pelecehan psikologis, saya baca dulu om, thx :D

  23. semoga para atasan pandai untuk memanaj emosi
    sehingga tak masuk ke area pelecehan psikologi

    salam dahsyat

  24. saya pernah punya atasan demikian. Untungnya saya punya bargaining power. Sehingga saya bisa mainkan prinsip saya : jika manajemen buruk saya akan biarkan outputnya juga buruk dan sebaliknya. Dengan demikian terjadi pembelajaran bersama.

  25. mmmm.. nice info.. jadi tau nih tentang istilah pelecehan psikologis.. :p

  26. Membaca ini, kayaknya saya pernah ada di situasi itu deh…

  27. saya pernah punya atasan demikian. Untungnya saya punya bargaining power. Sehingga saya bisa mainkan prinsip saya : jika manajemen buruk saya akan biarkan outputnya juga buruk dan sebaliknya. Dengan demikian terjadi pembelajaran bersama.
    +1

  28. hmmm apakah saya otoriter dan melecehkan? kalo soal paypal dan vcc saya memang cenderung keras mas, karena paypal memang bukan untuk mainan dan bisnis online bukan sesuatu yang ecek-ecek.. makanya saya menuntut perhatian lebih dari pembeli vcc dan pengguna paypal, supaya tidak menyesal di kemudian hari.

    • Hello Mas Hengky –
      Sebaiknya setelah Mas Hengky bersikap ” keras” segera barengi dengan kelembutan dan perhatian. saya jamin kalau bisa begitu, orang akan semaikn Hormat dengan mas Hengky. Setuju ?

  29. baru tau ada pelecehan psikologis nie mas… nice info nie… selama ini sering menjumpai, tapi ga sampe ke istilah ini

  30. A thoughtful opinion and ideas I will use on my blog. You’ve obviously spent a lot of time on this. Thank you!

  31. pelecehan psikologis hampir penah dialami oleh setiap orang

  32. paling sebel kalau udah terjadi pelecehan psikologis di kantor, meski bukan pada saya, tapi rasanya pengen juga melawan. Rasa2nya msh banyak nih pelecehan psikologis yang terjadi antara atasan dan bawahan. Nice article :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>