Perlukah Sebuah Prosedur ?

Posted by on Apr 25, 2010 in marketing | 24 comments

Seorang salesman bercerita soal dilema yang dihadapinya terkait penjualan versus etika bekerja. Seorang pelanggan penting yang selama ini mendatangkan omzet signifikan, butuh produk kompetitor. Sayangnya perusahaan tempatnya bekerja tidak punya hubungan baik dengan kompetitor tersebut. Ia merasa kesempatannya hanyalah menjual barang itu secara pribadi ke pelanggan tersebut, karena bila ia tidak melayani pelanggan, kompetitor bisa ‘masuk’. Namun, jika ia berterus terang pada perusahaan, ada risiko perusahaan tidak mengijinkan. Sementara, bila ia ketahuan menjual barang tersebut secara pribadi,  ia bisa dianggap melakukan moonlightingalias ‘ngobyek’.

Kasus-kasus seperti inilah yang saya amati kerap jadi pembahasan panjang, dalam beberapa program sosialisasi values maupun budaya perusahaan akhir-akhir ini. Banyak sekali concern terhadap kesuksesan bisnis yang buntut-buntutnya mendiskusikan dilema atau pertentangan dengan etika kerja, pelanggaran sistem dan prosedur, juga ‘kreativitas’ dalam melihat celah. Di banyak perusahaan di manatrust, ‘code of conduct, “do’s dan dont’s “ yang menunjang integritas setiap individu sudah digariskan, tetap saja timbul pertanyaan-pertanyaan yang terkadang tidak mudah dijawab. Bolehkah mengundang klien dalam pesta pernikahan kita? Bolehkan menerima hadiah ulang tahun yang sangat pribadi tetapi cukup berharga, dari klien yang sudah menjadi kawan baik? Rasa-rasanya setumpuk peraturan pun tidak akan bisa mencakup semua perilaku.

Halal tidak Halal

Ketika 10 tahun yang lalu, di Eropa, saya menyaksikan sebuah iklan hamburger  yang menulis dengan gamblang:Daging kami 50 mm lebih tebal daripada.produk ’X’ (produk kompetitor)”, saya merasa  bahwa  rambu-rambu etik profesi, etika bisnis sudah bergeser. Sebuah perusahaan iklan kini tidak lagi hanya melayani satu klien per jenis produk, karena produk di pasaran sudah terlalu banyak. Kita juga tidak bisa marah bila pelanggan “ikut” dengan “account officer” yang disukainya bila si AO pindah ke perusahaan lain.

Terkadang kita bertanya-tanya, demi kesuksesan karir dan bisnis,  ‘halal’kah kita melanggar nasihat-nasihat yang kita dapat dari guru-guru dan orang tua kita saat masih kecil, bahwa kita harus adil’, ‘kita perlu memikirkan perasaan orang lain’, ‘kita harus merespek orang lain’, ‘kita harus tulus’, ‘kita harus tahu cara berterimakasih’, ‘kita “harus melindungi yang lemah’?

Agresivitas merebut pasar, entrepreneurship, arogansi sebagai pemenang, pemanfaatan wewenang yang sulit dibuktikan kesalahannya, proteksi terhadap “intelectual property”, sering menyebabkan tindakan yang “kasar” dan  pelanggaran terhadap nasehat-nasehat orangtua tersebut “dihalalkan”. Kadang kita berupaya mencari pembenaran, “Kalau kita nggak duluan nginjak, kita yang akan diinjak…”. Pembenaran seperti  ini keluar spontan tanpa rasa bersalah untuk melakukan “survival” bisnis ataupun karir.   Kadang, sebagai orang yang sudah makan asam garam kehidupan kitapun speechless menghadapi tindakan-tindakan ini. Semuanya benar, tinggal kita kembalikan lagi pada diri kita dan berpikir, “Apakah ini etis? Apakah kita mau meneruskan kehidupan dengan meremehkan “harga“ orang lain dan “harga” diri kita?

Dengarkan  Hati Nurani

Bila saja keberanian, kegagahan, dedikasi, motivasi di-support oleh pemahaman dan pengolahan tata krama kehidupan, maka  etika dan tata cara berperilaku dalam pergaulan dan bisnis pun tetap bisa kita kembangkan. Kita tahu bahwa para artis sedang melakukan gerakan anti “pembajakan”. Setelah tahu, apakah kita kemudian berhenti membeli bajakan CD dan video? Kita tahu banyak perusahaan sudah menerapkan prinsip-prinsip Health, Safety & Environment. Lalu, apakah kita kemudian jadi menyetir  dengan aman dan sopan di jalan raya?

Orang tua saya tidak pernah tahu mengenai gerakan mengamankan lingkungan atau mengamankan enerji. Ini semua baru ada di era digital sekarang. Etik yang ditularkan oleh orang tua saya dulu jauh lebih sederhana daripada kebutuhan pertimbangan jaman sekarang. Di jaman sekarang , kita memang  perlu sangat peka terhadap hal hal yang dulu tidak pernah menjadi pertimbangan. Kita sekarang menghadapi  adanya “netiquette”,”cara gaul” dan sopan santun bisnis yang juga berkembang. Yang jelas, perkembangannya nilai nilai itupun tidak mungkin dimaksudkan untuk “menghajar” nilai nilai kemanusiaan.  Tentu saja kita perlu sekali mengikuti jaman, sekaligus memancing keluar daya penilaian kita terhadap baik buruknya perilaku kita di jaman yang semakin sophisticated ini. Etik kita juga perlu dipoles jadi lebih memuaskan dengan tuntutan jaman. Ini akan dimudahkan karena hati nurani kita tidak pernah hilang, asal  rajin dipelihara dan diasah.

Elaborasi Kode Etik

Sebenarnya, pencanangan good corporate governancetidak jauh-jauh dari niat  perusahaan untuk  menjunjung tinggi fairness, transparansi, akuntabilitas dan tanggung jawab. Aturan berperilaku atau kode etik sekarang bukannya luntur tetapi semakin terelaborasi dan semakin canggih. Karenanya, dalam pengembangan kode etik, kita perlu untuk setidaknya memikirkan ‘5C’ ini secara lebih mendalam:

  • Complexity: Semakin kompleks permasalahan beserta berbagai resiko yang menyertainya, semakin individu perlu berpikir keras dan mempertimbangkan banyak hal sebelum bertindak.
  • Creativity: Dalam transaksi bisnis, kreativitas baik untuk mencari solusi, tetapi tidak untuk merekayasa peraturan atau system.
  • Control: Monitor internal perlu kita ‘nyalakan’ terus
  • Coziness: Pancing kepekaan untuk mensensor rasa “nyaman” kita, bila melakukan sesuatu yang pelik.
  • Choices: Sadari bahwa setiap hari, setiap saat, kita dihadapkan pada pilihan sikap, dan mempunyai kesempatan untuk memilih yang baik.

Bagaimana pun juga, kita perlu mencari cara agar setiap pulang ke keluarga, ke rumah, ke perusahaan dan ke bangsa sendiri,  kita pulang dengan rasa bangga dan terhormat.

24 Comments

  1. Baru mengetahui istilah moonlighting artinya ngobyek… :D

  2. ‘ Kode Etik’
    2 kalimat yang akhir-akhir ini sering muncul di layar-layar kaca televisi negeri ini…
    Apakah etika masyarakat Indonesia sekarang telah bergeser?….

  3. Klo da ngomongin ‘etika’ pusing…… palagi yg ngomong ‘orang² top’……

  4. setuju banget
    dlm hidup ini selalu saja ada banyak tawaran2 yg menggiurkan, tp jg ada batasan2 yg kadang membingungkan, mana yg benar2 boleh/ sah kita lakukan seringkali terlihat kabur.

    Itulah gunanya hati nurani. Kita diberi hati nurani oleh Sang Pencipta tentu ada maksudnya, spy kita bs mendengar suaraNya yg tak pernah salah.

  5. menurut saya sih memang harus ada frame-nya, jadi gak pada asal-asalan….tapi memang kembali ke orangnya..kembali ke hati nurani

  6. sharing yg bermanfaat banget Mas, buat pedagang seperti sy…makasih.

  7. setuju, mas..
    yg terpenting bagi saia siyh yg no. 2…
    dengarkan hati nurani… :)

  8. makasih banget mas.
    saya saya jadi tahu etika kerja setelah baca2 ini :)

  9. Semuanya tergantung pada salesnya, asal target terpenuhi. Dan atasan juga tidak tahu apakah kebutuhan financial salesnya sudah relatif terpenuhi atau tidak. Jika ternyata belum, apakah ngobyek dilarang demi alasan loyalitas dan idealis?

    Salam Mas Andry, good posting :)

  10. Kalo menurut Sy sih Kembali kepada individunya masing2 kali yaa

  11. artikel yang bagus sekali mas..
    kode etik atau etika atau moralitas atau apapun namanya…menurut saya itu sangat perlu..
    tanpa itu, para pebisnis hanya akan menjadi predator yang saling mencabik dan memangsa…

  12. Pergeseran nilai etika dalam berbisnis memang sangat tajam akhir-akhir ini,demi keuntungan pribadi/perusahaannya mereka rela menggadaikan harga diri,kehormatan.Hukum rimbalah yang mereka pakai

    Ini diakibatkan bergesernya nilai religi pada individu trsbt,berfikir semua yang dilakukan tidak akan dipertanggungjawabkan.menyedihkan memang.

    Efektinya kita berusaha seoftimal mungkin untuk tidak seperti itu

  13. Hehehe… jadi marketing penuh dilema juga ya!
    Kalo nurut aturan memang gitu. Saya ada cerita lucu tentang marketing. Seoranng marketer bekerja sambil ngobyek, di samping masarin produk perusahaan tempat ia kerja, ia masari produk lain. Bahkan di kemudian hari, ia bikin produk sendiri dan dijual, sementara pasar menganggap bahwa produk itu merupakan produk perusahaan tempat si marketer tersebut bekerja, padahal bukan.
    Pada akhirnya si marketer tersebut punya perusahaan sendiri. DI saat dia sudah jadi boss, dia tidak mau semua tenaga marketing yang bekerja di perusahaannya nyambi seperti dia dulu. Semua tenaga marketing tersebut mengangguk setuju di hadapan dia, tetapi di belakang si boss ini tetap nyambi juga :)
    Pengkhianat akhirnya dikhianati juga :)

  14. Iya, sepertinya sendor ‘rasa nyaman’ ini bisa jadi pegangan juga. Tapi bila terlalu sering dimanipulasi-diulang, maka sepertinya tidak akan menjadi valid lagi :)
    Terima kasih sharingnya. Membuka wawasan :)

  15. Memang para pelaku bisnis itu harus dikasih aturan yang ketat. Sekarnag semua sudah pakai cara yang head to head dan kadang menjurus fitnah, jadi memang seharusnya pakai aturan.

  16. kra aq orang yg prosedural.. so aq anggap penting prosedur dalam segala aktivitas manusia.. terutama yangbersifat resmi…

  17. iya, setuju dalam berbisnis & dimana pun tetep perlu adanya kode etik.. semuanya ada etikanya.. :p **nice info artikelnya.. :)

  18. Menurut lia tergantung situasinya..
    selagi kita masih dalam norma2 yang ada prosedur yang kadang jlimet emang bikin susah..

    Kadang bingung sendiri :D

  19. Hihihi, berat nih tulisannya, tapi inilah yang kita alami dalam keseharian, terutama bagi yang profesinya bersentuhan dengan banyak orang setiap hari. Dulu saya pernah jadi sales kartu kredit Bank X. Well, ujung-ujungnya saya berhenti karena “hati nurani” saya tidak sreg jika harus terus-terusan “menjerumuskan” orang (yang kadang saya tahu dia tidak memenuhi syarat dan belum dewasa untuk memegang sebuah kartu kredit) untuk memakai kartu kredit bank tersebut.

    Harus diakui, ada perbenturan di sana. Saya pingin dapat gaji dan untuk itu mesti jual banyak kartu, sedangkan di lain pihak saya kasihan dengan orang-orang yang telah saya prospek dan kemudian setuju membuat kartu kredit. Hehehe, just sharing….

  20. salam super sahabat…

    terima kasih atas sharing-nya…
    sangat bermanfaat sekalii..

  21. hehehe……
    bagaimanapun SOP hrs ttp ada, dan konsistensi jg hrs ada….

  22. Ngobyek bagi marketing sudah menjadi suatu budaya mas, karena mungkin di persh tempat dia bekerja sulit mendapatkan insentif/bonus karena target yg terlalu tinggi untuk di capai.

    Menurut saya pribadi ngobyek di luar persh sah-sah saja asalkan tidak berbenturan dg value persh tempat bernaung dan tidak mendompleng fasilitas persh, sehingga value dari ngobyek yg didapatkan jauh dari kesan korupsi, baik materiil mapun nonmateriil.

  23. Wah makasih banyak mas untuk info menarik, terutama nasehat pada point terakhir. Moga saya mampu untuk tetap menerapkan dan menjaga value yang ada

  24. yups.. setuju bgt..
    didalam berbisnis harus ada proseduralnya..
    etika dalam berbisnis harus dijunjung tinggi.. karena akn mencerminkan kapabilitas dari pebisnis trsbt.. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>