Empati dalam dunia Bisnis

Posted by on Mar 8, 2010 in marketing | 38 comments

Perasaan kita pasti tergugah menyaksikan bencana banjir, puting beliung, gempa yang melanda banyak orang. Di sebuah kantor elit di Sebuah Kota, di mana beberapa karyawannya berinisiatif mendirikan posko bantuan, ditempelkan pengumuman yang bunyinya:Sembako cukup, pakaian bekas cukup, yang paling dibutuhkan adalah tenaga.. Sementara sumbangan makanan, pakaian bekas bahkan uang terus berdatangan, ternyata tenaga penolong yang ada sangat terbatas. Sebenarnya, apakah rasa kasihan atau iba itu tidak ada? Atau rasa itu ada, tetapi tidak sampai menggerakkan orang untuk  menolong? Ini bukti bahwa rasa, atau empati bisa tidak sampai pada taraf melakukan action.

Masih ingat bagaimana rasa takut atau rasa berani mendorong kita untuk belajar berenang atau melompat dari papan loncat di kolam renang?  Bukankah emosi yang seolah berada di belakang punggung kita dan mendorong kita untuk melompat? Rasa takut, seperti takut kebanjiran, takut rugi, takut kena marah atasan, takut dipermalukan di depan umum, menjadikan kita bisa mengerem perilaku kita dan membuat tindakan kita surut seketika. Detak jantung bisa bertambah cepat, tangan bisa berkeringat dingin bila kita takut. Sebaliknya, muka bisa merah padam, panas dan ingin segera menghantam musuh, bila kita merasa geram. Terlihat bahwa bukan saja emosi berbicara, tetapi emosi bisa menjadi ‘bara’ atau sebaliknya menjadi es yang membuat kita surut dan membeku.

Kita lihat bahwa kekuatan dan energi fisik sangat relevan dengan keadaan emosi manusia. Proses fisik akan terjadi sesuai kondisi emosi kita. Jadi sebetulnya, perasaanlah yang menggerakkan manusia untuk bertindak. Ungkapan “penuh perasaan” sebenarnya artinya “dalam”. Bila kita melaksanakan tugas kita penuh perasaan, maka kita akan bekerja secara “hemat energi”, “happy” dan terasa sungguh sungguh oleh pelanggan dan rekan kerja. Tidak heran bila emosi akhir-akhir ini sangat populer dikaitkan dengan kinerja kerja manusia. Bila memang emosi bisa memicu kinerja tentunya kita perlu benar-benar mempelajari bagaimana caranya.

Berteman dengan Perasaan

Pelajaran pertama agar dapat memanfaatkan perasaan adalah mengenalinya. Bila kita mau jujur pada diri sendiri, kita pasti bisa mengaku bahwa kita sering tidak mengakui perasaan yang ‘asli’. Misalnya, kita menepis adanya rasa iri, khawatir, takut kalah, cemburu, dan lain-lain. Pernahkah kita menemui rekan kerja yang sebenarnya iri, tetapi mengklaim bahwa ia kecewa? Yang jadi masalah dengan orang ini adalah kejujurannya terhadap diri sendiri. Bila ia hanya ber-‘acting saja, pura-pura kecewa padahal ia sadar bahwa ia iri, biasanya ia pun bisa mengendalikan kata-kata dan perilakunya. Ketidakmampuan  ini adalah awal dari tidak berdamainya individu dengan perasaannya. Kalau kita tidak berdamai dengan perasaan bagaimana pula kita mau memanfaatkan perasaan untuk berbisnis?.

Berkenalan  dengan emosi kita sendiri sama seperti cara orang lain berkenalan dengan Anda. Kita sendiri bisa-bisa akan surprise sendiri bila ternyata apa yang kita rasakan lain dengan bagaimana ekspresi emosi kita terlihat oleh orang lain. Kita, misalnya, akan sangat terkejut mendengar komentar pejabat mengenai situasi banjir yang dibesar-besarkan media. Ini adalah contoh tidak samanya penilaian rasa seseorang dengan apa yang dikemukakan. Pejabat tersebut  pasti punya perasaan, tetapi pengungkapannyalah yang belum pas.  Bila kita tidak cepat mengkoreksi dan hati-hati dalam meraba perasaan, kita akan mempunyai tumpukan kekeliruan rasa, dan kemudian akan menjadi keyakinan yang tidak bisa kita manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Perasaan: Bahan Bakar ‘Radar’ Manusia

Pernahkah anda menemui individu yang seolah tidak mempunya radar lagi, tidak bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain, bahkan benar-benar tidak bisa mengimajinasikan pengalaman orang lain. Teman saya seorang eksekutif, bertanya kepada bawahannya: Banjir??? Saya lancar-lancar saja kok perjalanannya dan di sini tidak hujan!. Belum lagi, ada saja orang yang tidak mempunyaisensedan kewaspadaan sosial, sehingga tidak bisa mempersepsi situasi secara pas.

Persepsi, interpretasi, pemikiran, emosi dan tindakan merupakan suatu rangkaian psikodinamis yang berkembang. Bila radar perasaan bekerja dengan baik, maka interpretasi akan lebih clear, perintah dan keputusan untuk melakukan tindakan pun akan lebih mudah diambil. Jadi manusia memang tidak punya pilihan untuk tidak menajamkan perasaannya, karena ketajaman perasaan ini-lah yang menentukan betul atau tidaknya tindakan.

Jiwa Sehat, Tubuh Sehat

Kita kenal sekali ungkapan “mensana in corpore sano”, (di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat) . Di jaman di mana kita banyak mengalami tekanan, persaingan dan tuntutan, ternyata, mental juga banyak mempengaruhi fisik. Bukan saja work out atau olah raga fisik yang kita perlukan, tetapi kita pun perlu membiasakanwork out mental seperti membiasakan diri untuk melakukanself talk positif. Misalnya dengan mengucapkan kalimat kalimat konstruktif seperti: “Ayo coba!”, “Pasti bisa”, “Pasti ada jalan keluar”. Kalimat-kalimat ini akan menyehatkan pikiran, memenuhi pikiran dengan solusi, dan menambah keyakinan akan kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

Responsibility: Response-ability (Ability to Respond)

Kalau emosi memang menjadi latar belakang dari tindakan, kita memang mesti bertanggung jawab terhadap apa yang kita rasakan. Kita mesti bertanggung jawab pada diri sendiri kalau kita marah dan men-justify perasaan tersebut. Apakah saya berhak marah dalam situasi itu? Bila ya, tindakan tertentu memang mesti diambil. Apakah tindakan itu mengejutkan, keras ataupun merugikan orang lain? Sepanjang tindakan tersebut bisa dipertanggungjawabkan, tidak ada masalah. Tantangannya adalah mengambil tindakan konstruktif yang selaras dengan apa yang kita rasakan.

38 Comments

  1. tapi kadang kok susah ya berpikir ‘konstruktif’ :-(

    • Salam super-
      Semua memang butuh ilmu dan pelatihan yang intens.
      Selamat berlatih ya…
      Semangat ya…

  2. terkadang terlalu banyak mengikuti perasaan juga jadi aneh… dan akhirnya aku terus dimarahin karena terlalu banyak mengikuti perasaan, mudah kasihan dan akhirnya menjadi tidak tegas

    • Berarti ketika perasaan main, logika jangan sampai terlewatkan… Bukan Gitu, Mas Andry?

      • Salam Super –
        Bicara mengenai penggunaan logika atau perasaan sebaiknya Anda merujuk pada 99 Thinking Hat – nya pak Ary Ginanjar.
        Saya pun belajar banyak dari beliau.

  3. klo leh komen, pemasarn filantropi mungkin perlu peningkatan…salah satu buktinya ada kasus “kemiskinan” seorang nenek yg tinggal di kandang sapi ditayangkan di tipi. setelah itu berbagai bantuan berdatangan

  4. memang emapti dalam berbisnis kadang kala perlu sekali mengingat rasa kemanusiaan harus ada dalam hati kita.

  5. tulisan”nya bagus disini :)
    numpang baca” yaaa…

    HIDUP!!! ^_^

  6. saya sering mempraktekkan self talk, dan it’s work,, beberapa pengalaman saya telah berhasil membuktikan bahwa self talk emang memberi dampak yang positif buat mental kita … (asal self talk-nya jangan over dosis,, ntar dikirain orang gila… wkwkwkwkwk …)

  7. Salam Sukses Mas Andry!

    Biarin komennya ngga nyambung, lagi males baca tapi lagi pengen celoteh:-) Bali indah ya, tuh yang nampak di foto-fotonya. Kapan ya saya kunjung ke sana :-)

  8. setuju.. sesungguhnya perasaan adalah sumber energi kita.. :)

  9. Empati. Sesuatu yang harus di lakukan dalam segala aktivitas, pun begitu dalam bisnis. Karena dalam bisnis kita akan banyak berhubungan dengan sesama, maka dengan bisa menempatkan dalam segala posisi kita bisa menjadi pribadi yang disenangi.
    Nice share blih,

  10. panjang tulisanya,, aku salin dulu..

    harusada timbal baliknya antara berbisnis dengan hal sosial…

  11. tulisan bagus pak… sukses selalu…

  12. salam super… tulisan yang mantap pak….

  13. tapi kadang yang namane udah berhubungan dengan uang,gelap mata pengene meraup sebanyak mungkin tanpa peduli sekitar

  14. kalau saya menangkap dari tulisan ini, berarti harus ada kesinergian antara perasaan dan tindakan.. benarkah demikian.. pak.. ? :D
    salam hangat dari arsumba.
    mohon izin untuk memasang link blog ini di blog saya ya..
    trims sebelumnya..

  15. menarik sekali Mas. hati harus berperan. Saya punya pengalaman banyak ketika hati disingkirkan dalam dunia bisnis maka cenderung membabi buta.
    Terima kasih sudah mengingatkan.
    Salam hangat selalu :)

  16. Salam hangat dari Pulau Jawa

    uraian yang sangat bagus.

  17. kebanyakan hanya beerani berkorban harta benda, dari pada berkorban tenaga..

    salam kenal blog baru..

  18. artikel yang sangat memberi imajinasi…
    di tunggu deh artikel selanjutnya

  19. Saya pernah jadi Relawan di tempat bencana, banyak hal hal yang menyentuh perasaan kita. empati sangat dibutuhkan tidak hanya di daerah bencana atau di bisnis. dalam keluarga dan kehidupan sehari hari kita perlu berempati

  20. salam dari Banyuasin Mas….
    artikelnya panjang sekali Mas.
    Empati memang penting ya Mas… dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bisnis.

  21. bener sekali neh artikel
    beberapa orang emang suka error dalam memahami sesama
    thanks penjelasannya

    btw, kalo pingin numpang pasang banner bagaimana ya ?
    boleh kah ?

    hubungi aku ya

  22. bener banget jiwa yang sehat dan tubuh yang sehat emang itu adalah modal utama, hmmm artikel yang mangtab seperti biasanya sangat berguna dan memotivasiii :D


    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya
    makasih
    :D

  23. hmmm empati ternyata dalam dunia bisnis pun diperlukan ya mas
    salam blogger
    salam sahabat

  24. bener deh…
    tanpa rasa empati, kayaknya bisnis tuh hambar
    *sory saya asal tulis, arti dari empati aja saya gatau wkwkwkwk

  25. salam silaturahim dari Lereng Muria :D

    uraian yang sangat menggugah. Dan dalam segala hal, kita tetap harus dapat mengendalikan emosi untuk dapat menciptakan sebuah perlawanan dari adanya penindasan hak.

    nyambung ndak yah? :roll: hehehheeee

    Salam sukses dan jabat erat selalu dari Cah Ndeso ;)

  26. kunjungan balik ni Bro dari thetekter..,

  27. sudah hampir 5 bulan saya berkerja sama dengan orang yang masuk kedalam katagori seperti yang Anda jelaskan
    menghadapinya memang justru dengan menggunakan pendekatan “perasaan” itu sendiri

    Beruntung sekali saya masuk ke blog ini :)

    Salam sukses dan hangat dari Kutai Kartanegara

  28. perasaan, makin berat saja tugasnya, mesti punya radar canggih agar bisa menangkap sinyal secara benar.
    padahal sinyal yg terpancar dari lingkungan semakin banyak distorsi

    • Salam Super-
      memang tugas kedepan semakin berat,tapi lakukan dengan sepenuh hati,nanti bisa menjadi ringan juga.

  29. dg kata lain kalo marah jgn berlebihan ya.

  30. ada ungkapan begini ” i think, it’s i am ”

    jika kita artikan secara bebas bermakna ” apa yang aku pikirkan itulah saya”, makna dari kalimat tersebut adalah jika berpikir positif maka akan positif semua tindakan kita dan apabila kita berpikir negatif maka kerusakanlah semua tindakan kita.

  31. haloo Bli’ Andri,

    Hebat hebat artikelnya ya,,
    sukses selalu deh buat blog and bisnisnya,,

    kapan ke jakarta ?

    • Hello Ms . Grita –
      Matur Suksme… atas do’a baiknya..
      Saya belum ada rencana ke Jakarta dalam waktu dekat ini.
      Silakan ikuti terus artikel artikel saya.
      Semoga bermanfaat…

  32. Terima kasih atas sharing nya

  33. Istilah “mensana in corpore sano” (di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat) sebetulnya tidak tepat. Orang yang fisiknya sehat belum tentu kalau jiwanya sehat. Seperti contoh pasien di RS jiwa. Secara fisik mereka sehat, tetapi jiwanya sakit.

    Orang benci, iri, dendam itu sebenarnya dia kena penyakit jiwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>