Arti Kualitas yang Sesungguhnya

Posted by on Mar 27, 2010 in marketing | 34 comments

Percayakah Anda saat membaca label: ‘KUALITAS No. 1’, ditempelkan pada suatu produk yang dijual di supermarket? Seratus persen-kah Anda percaya bahwa produk itu betul-betul berkualitas top? Atau, kita begitu terbiasa dengan istilah ‘kecap nomor satu’, sehingga yang terpikirkan adalah si produsen pasti hanya sekedar ‘mengecap’ saja.

Sikap tidak percaya pada kualitas sangatlah kuno. Simak apa yang dilakukan oleh para ahli seperti Edwards Deming dan Joseph M. Juran yang tidak ada habis-habisnya mengulik kualitas. Mereka sampai bolak-balik berpindah-pindah tempat tinggal dari Eropa, Amerika, Jepang dan kembali lagi ke negaranya sendiri sekedar untuk meningkatkan keahlian untuk menghasilkan produk berkualitas.

Saat sekarang kualitas sudah menjadi ilmu. Ilmu tersebut sudah berkembang menjadi sistem yang di perusahaan yang dengan efisiensi tinggi, seperti Toyota, sudah menjadi budaya yang dikenal sebagai Toyota Production System, Total Quality Management, dan lain-lain. Bahkan ‘kontrol kualitas’ saja sudah bisa menjadi nilai tambah untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan yang akan langsung berdampak melipatgandakan penjualan.

Sendirian maupun dalam tim, atau terutama sebagai pimpinan perusahaan, kita tidak boleh sedikit pun anti-kualitas. Tidak boleh kita terpikir atau berniat sedikit pun untuk menghasilkan barang berkualitas rendah. Permasalahannya sering pada kesulitan mempertahankan kualitas karena kendala waktu, biaya, tuntutan kuantitas, dan ketidaksabaran kita atau anggota tim kerja lainnya. Tengoklah betapa pesawat terbang yang tidak dalam kualitas prima toh diterbangkan. Simak berapa banyak jumlah penumpang di daftar nama penumpang kapal yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kesemua praktik ini tidak akan terjadi bila ‘keyakinan’ para profesional yang menggarap tugas di seputar lingkaran kerja ini berorientasi kualitas.

Kualitas No. 1 = ‘Error Free’

Tidak percayanya masyarakat pada kualitas memang bisa dimengerti, terutama bila tidak tersedia pilihan produk atau servis lain yang bisa dipilih. Untuk ‘menjual’ bahwa kita sungguh-sungguh memperhatikan kualitas, kita bisa coba untuk ‘membalik’ istilah kualitas menjadi ‘tanpa salah’.

Dalam sistem apapun, pengembangan kualitas akan kembali pada penggarapan kesalahan. Kalau saja kita jago medeteksi kesalahan, berupaya tidak mengulangi kesalahan, dan kemudian merancang suatu program yang ‘error free’, maka kita bisa benar-benar berharap untuk mengatakan bahwa kualitas kita nomor satu.

‘MEMILIKI’ Kualitas

Teman saya, seorang desainer grafis, merasa putus asa dengan kerja para asistennya. “Setiap saya menemui klien tanpa memeriksa hasil pekerjaan anak buah saya, saya jadi malu sendiri, karena pekerjaan tersebut tidak pernah perfect. Kepandaian mereka lebih daripada saya. Saya tidak habis pikir, apa sih susahnya untuk mengecek ulang pekerjaan mereka sebelum diserahkan?”

Kelihatannya, masalah kualitas masih sering ’diposisikan’ ada di pihak lain, bisa di pihak atasan atau hanya di bagian ’kontrol’ kualitas’ saja. Bawahan, seperti yang dialami teman saya ini, tidak menunjukkan rasa kebanggaan ataupun rasa memiliki terhadap ’kualitas’ dari pekerjaan yang mereka garap. Sampai kapan pun, kualitas nomor satu tidak bisa terjual di perusahaan seperti ini. Untuk menghasilkan kualitas nomor satu, setiap orang, pada setiap langkah proses, harus meneliti kesalahan bagaikan ’mencari kutu’.


‘MERAWAT’ Kualitas

Pernahkah Anda mendengar, “Tidak ada waktu untuk perencanaan, kita dikejar deadline, just do it sajalah…”, atau “Kita sudah pernah ‘kan membuat planning, tidak jalan bukan?”. Padahal, dalam ’merawat’ kualitas, kita perlu membuat peta proses pekerjaan dan meramal di mana titik-titik kritisnya. Ini membuat setiap pelaksana tugas menjadi ‘awas’ terhadap jebakan kesalahan yang mungkin terjadi di bagiannya dan kemudian rajin menginspeksi.

Kekerasan hati dan sense of urgency untuk menemukan kesalahan, memperbaiki dan menggarap produk atau servis yang error free adalah hal yang sulit , tetapi harus menjadi keyakinan setiap orang dalam rantai produksi. Sadarkah kita mengapa produk furnitur kayu di Itali tidak pernah pecah termakan cuaca? Dalam proses pembuatannya, kayu bahan baku furniture dijemur di udara terbuka, proses ini yang mereka sebut sebagai “weathering”, dan setiap 2 minggu sekali digeser menyambut matahari yang bergerak. Waktu penjemuran sangat standar dan tidak bisa dikurangi sedikit pun, walaupun ada permintaan pasar atau pelanggan maha penting sudah menunggu. Selain kekuatan otot untuk menggeser kayu jemuran, kekuatan hatilah yang menjamin kualitas produk.

Kualitas nomor satu adalah TANTANGAN

Bayangkan reaksi kita bila mendengar, ”Proyek selesai, tetapi ‘overbudget’, lewat deadline, dan penuh kekurangan di sana-sini”. Apakah kita akan sekedar menghela nafas dan dan mengatakan:  ”Capeee’ de…”?

Kalau kita menanamkan dalam diri bahwa KITA-lah penentu kualitas, maka kita bisa bersikap lain. Kita perlu mengejar suksesnya kualitas, perlu merayakan kemenangan bila kualitas memang nomor satu. Kita juga perlu mengembangkan sikap mental karyawan dari projek-projek kecil yang mudah dikontrol, sehingga ’sense of success’-nya juga lebih mudah dicapai. Dengan demikian ’error’ tidak lagi menjadi ’benda’ yang menakutkan, tetapi justru jadi tantangan.

34 Comments

  1. I see,,,,I’m on it..hehe

  2. masih ga bgtu paham,,tapi komentar dlu ah,, sambil baca

  3. Berkunjung ke Bali… Ya Quality or Die… 100% mendukung…

  4. wah berkesan kali isi diatasnya setiap pembacannya pasti mendapatkan motivasi….:o

  5. Salam Bli,
    saya baru tahu arti kualitas yang sejati..

  6. dengan kwalitas yang tidak hanya stempel memang lebih bagus dan bermanfaat hehe

    salah gak yaw komeng bgini heheh maaf,, lo salah haha

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya
    salam blogger
    makasih
    :D

  7. semoga saja saya termasuk orang yang berkwalitas gak hanya dalam stempel heheh tapi kwalitas yng sebenernya

    blogwalking

  8. Wah…setahu saya jika produk sudah menjadi nomor satu, maka kebanyakannya kualitasnya akan menurun

  9. mempertahankan kualitas itu apsti sulit, karena sehebat apapun produk, kadang2 ada kesalahan juga. sepetrti toyota yang harus merecall mobil2 buatnnya demi mempertahankan kualitas.

  10. salam super! :)

    kalau sudah menyebut kata “kualitas”, tanggung jawabnya memang berat. jadi teringat waktu dulu antara bagian produksi dan quality control saling tunjuk-tunjukan waktu ada cacat produksi yang lolos ke pasaran.
    jadi bertanya-tanya, siapa yang tanggung jawabnya lebih berat?

  11. ya, kualitas ternyata bukan sesuatu yang direncanakan saja ya, tapi mesti dirawat. btw, damai sekali menikmati header blog ini… suasananya itu oh, indah!

  12. jika kita yang menentukan kualitas, namun dimata klien ternyata kualitas kita dianggap adalah sebuah kekurangan, bagaimana ke depannya? apakah tetap berpegang pada, “konsumen adalah segalanya” ?

  13. BerKwalitas No.1 memang tdk mudah, khususnya menjaganya dibanding saat membangun

  14. Betul Mas, mempertahankan kualitas itu pasti lebih sulit dibanding ketika baru memulainya.

    Btw salam kenal yah Mas (hihi ini orang Jawa ato orang Bali yah??). Thanks udah berkunjung ke blog keluargazulfadhli :-)

  15. Allo Bli Andry,
    Jika bicara tentang kualitas,sebaiknya jangan hanya melihat hasil akhir saja.tetapi juga sejak awal pembuatan produk itu sendiri.
    Bli , kalau aq ke Bali , mau donk ke rumahnya Bli… boleh khan ?

  16. nice info,,keep post friend :)
    thx 4 visit n comment my page,,

  17. sori gan, saya gak ngarti tulisan agan..

    • Ken ken ini… ?
      Jangan becanda na’e
      masak seorang senior sekelas MH , gak ngerti tulisan tyang ?
      jadi ge er neeh…

  18. Terimakasih ya, motivasi bermanfaat dlm menghasilkan produk apa pun.
    Kekuatan hati sangat penting menentukan kualitas.
    Terimakasih sudah berkunjung ke blogku.

  19. duh kalo kualiatas soewoeng ancur dong
    soalnya soewoeng kan kososng hehehehe

  20. Kualitas akan jauh lebih dihargai dari lainnya

  21. salam super sobat,

    sebuah artikel yang membangkitkan gairah dan semangat dalam beraktifitas..

    salam

  22. intinya makin mantap karena badai dan error dalam mengerjakan tugas itu ya mas ???

  23. bacaan yg berat…susah buat emak2 seperti saya buat mencernanya hehe…
    tp saya juga pingin anak2 saya nanti punya kualitas no 1…amiin

  24. Kadang-kadang, dalam mengejar kuantitas kita lupa mempertahankan kualitas, akibatnya bisa menggali lubang kubur kita sendiri

  25. kwalitas sebanding dengan harga. Biasanya yang berkwalitas baik harganya ya mahal

  26. menjadi amnusia berkualitas sangat penting mas andry dalam kehidupan, sama juga denagn perusahaan atau barang , manusia bisa lebih berharga dan bermakna

  27. untungnya ndak ada tulisan ketjap nomor dua di supermarket :lol:

    heheheeeee…. salut atas motivasinya. Salam hangat dan sukses selalu dari Lereng Muria ;)

  28. baru ngeh dengan arti kualitas yang harus di junjung secara berkesinambungan. dalam praktek di masyarakat tidak sedikit yang mengacy\uhkan kualitas yang berkesinambunga ini dan hanya mengejar keuntungan sesat. ditunggu postingan berikutnya :lol:
    salam hangat serta jabat erat selalu dari tabanan

  29. Kualiatas menjadi nomor satu,tapi yang lebih penting adalah bagaimana menjaga agar kualitas tersebut berkurang menjadi tantangan tersendiri. Disitulah konsistensi kita diuji.
    Salam sukses.

  30. memang berat mencari arti kwalitas sesungguhnya mas…

  31. Wah, bagus nih. :D
    Apakah kualitas lebih baik dari pada kuantitas? ;)

  32. Ternyata perlu bilang “Maaf saya tak bisa” demi mempertahankan kualitas yah…

    Saya banyak belajar lagi, mengapa akhir-akhir ini Production Manager di tempatku sering dapat masalah, dnegan kata lain kami sering mendapat complain dari clients; ternyata penyebabnya ini.

    Demi menyenangkan boss(meski dia berkilah, tidak) dia selalu bilang bisa, padahal menurut saya pribadi barang itu tidak bisa kami buat karena keterbatasan alat yang kami punya dan juga yang paling sering karena waktu yang disediakan sangatlah sedikit…..

    Pelajaran buat saya untuk tidak memaksa bagian produksi juga untuk berkata “bisa” jika waktu memang tak tersedia karena fungsi seorang QC independentpun sepertiny anggak begitu banyak membantu.

    Tapi, terkadang menjadi sebuah dilemma juga Bang…kalau kita bilang nggak bisa ke client jadinya kita nggakjualan dunk?
    Bagaimana ini?

    Makasih ya, bang…artikelnya bener2 TOP!
    :)

  33. Dengan kata lain kita harus menjada supaya produk kita tetap PERFECT.

Trackbacks/Pingbacks

  1. Apa Motivasi Bisnis Anda ? | Sellyoktaviany's Blog - [...] sebagian para pebisnis memang memiliki bakat alami sebagai seorang entrepreneur yang baik dan cukup qualified.harus kita akui orang orang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>