2010
Kita hidup di dunia penuh ketidakpastian. Alvin Toffler, futuris terkenal, pada tahun 1970 sudah memastikan bahwa percepatan perubahan akan sedemikian cepatnya, sehingga menantang para pembuat keputusan agar lebih gesit dalam mengambil tindakan.
Dalam sebuah sesi , saya bertanya kepada para eksekutif di sebuah perusahaan, tentang jenis-jenis keputusan yang mereka buat. Ternyata hanya sedikit sekali para GM (general manager), bahkan VP (vice president), perusahaan tersebut membuat keputusan nyata dan signifikan. Apakah wewenang sengaja di-‘pegang’ hanya oleh para direktur? Ataukah memang banyak keputusan yang mengambang? Siapakah sebetulnya pembuat keputusan di perusahaan itu?
Keputusan = ‘Building Blocks’ Pengayaan Pribadi dan Karir
Marilah kita berempati pada eksekutif yang kerap duduk termangu dan berpikir, ”Apakah saya benar, seperti yang sudah saya yakini? Kalau keputusan saya betul, saya akan jadi eksekutif sukses. Kalau salah, saya akan dicaci maki, dibicarakan orang, bahkan tidak mendapatkan posisi yang baik.” Terkadang ada keinginan untuk mengajak manajer atau direktur lain untuk bersama mengambil dan membagi risiko.
Pengambilan keputusan memang berat, karena di dalamnya terkandung risiko yang harus ditanggung. Ada alasan etis seperti kemanusiaan, rasa kasihan mem-PHK karyawan yang tidak berkinerja namun sudah loyal selama bertahun-tahun, risiko finansial, atau memilih antara 2 risiko besar, seperti mengeluarkan uang besar yang berarti merugikan perusahaan untuk membela risiko yang lebih sosial, misal; celakanya penduduk korban lumpur panas di sekitar Porong dan Sidoarjo.
Namun demikian, kita harus sadar betul bahwa dalam hidup dan di pekerjaan, kita harus secara teratur mengambil keputusan. Justru mutu keputusan kita merupakan ‘building blocks’ dalam kepribadian dan sejarah karir kita.
Kuatkan nyali
Aspek penting pengambilang keputusan adalah Nyali. Kita sering mengabaikan ”feeling” atau intuisi yang merupakan aspek penting dalam diri kita, yang membedakan kemampuan pikir manusia dari komputer ”mainframe” tercanggih sekalipun.
Nyali datang dari ’penerimaan diri’ yang optimal. Individu yang merasa tetap relaks dan positif dalam keadaan sulit, bisa lebih kuat mendorong dirinya untuk mengambil tindakan atau keputusan yang mengganjal. Nyali juga adalah kemampuan individu untuk berfungsi, bahkan menikmati dunia yang tidak sepenuhnya berada dalam jangkauan logikanya. Nyalilah yang akan mendorong individu yang ragu untuk mengambil keputusan.
Berteman dengan ‘Sense of Urgency’
Bila nyali kita tidak kunjung menguat, masih ada aspek penting lain dalam kehidupan kita yang mampu ’melangkahi’ hambatan logika, yaitu mendesaknya waktu. Kita perlu menguasai medan kompetisi dan berhati-hati agar tidak terlambat. Banyak contoh kejadian di kehidupan sehari-hari kita yang membuktikan bahwa bila kita tidak hati-hati, “action” kita bisa “basi”. Ketika tahun 1958, pabrik mobil Ford meluncurkan produk barunya tipe Edsel, yang sudah dipersiapkannya sejak 1954, Majalah “time” mengomentarinya dengan: ’The wrong car, for the wrong market at the worng timing’.
Tidak Harus Perfect , tapi Efektif dan Tepat Waktu
Bayangkan Anda menemukan sebuah produk baru yang hampir perfek, dan anda tidak mengetahui bahwa kompetitor juga sedang mempersiapkan produk yang mirip. Bila anda menunggu sampai produk mencapai kesempurnaan total, bisa-bisa anda ketinggalan kereta oleh kompetitor anda.
Wajar bila kita menghendaki keputusan yang perfect, tetapi justru seninya adalah membuat keputusan, mungkin yang tidak terlalu perfect, tetapi efektif dan tepat waktu. Intelektualitas, rasionalitas dan sistematika berpikir sering membuat kita terhambat mengambil keputusan. Kita cenderung menunggu sampai informasi lebih lengkap, menganalisa data, memprediksi, tanpa tahu kapan harus stop mencari data dan mengambil keputusan dengan informasi seadanya.
Pikirkan akibat terburuk
Kita memang bisa membangun mekanisme menghindar yang akan membuat hidup terasa lebih ringan dan seolah terlepas dari beban. Namun, prinsip ”don’t rock the boat” pada akhirnya menjadikan eksekutif tidak bersikap proaktif, tidak antisipatif, dan pada akhirnya kejadian yang ditakutkan toh akan meledak juga.
Latihan mengajukan urutan pertanyaan pertanyaan ini mungkin membantu :
• Apa jadinya bila orang lain juga tidak mengambil keputusan?
• Apa contoh keputusan terbaik?
• Apa konsekuensi keputusan terbaik?
• Apa contoh keputusan terburuk?
• Apa konsekuensi keputusan terburuk?
Dari jawaban pertanyaan ini mudah mudahan kita sudah mempunyai kalkulasi kasar dari untung rugi keputusan. Sekarang katakan : ”YES, JUST DO IT!”


Arief Rizky Ramadhan
February 16, 2010 at 12:58 pm
asalkan kita berani maka tidak akan sulit untuk membuat sebuah keputusan.. salam hangat dari tangerang ke bali..
Aldy
February 16, 2010 at 4:01 pm
Membuat keputusan memang bukan pekerjaan yang gampang, memeras otak, butuh nyali, siap dicaci, siap dipersalahkan.
Seberapa sulit ?
Tergantung permasalahannya, semakin rumit masalahnya tentu semakin sulit mengambil keputusan.
HumorBendol
February 16, 2010 at 4:12 pm
Mengambil keputusan (yang bijak) emang susah bro
Thanks atas pencerahannya
Salam
M Mursyid PW
February 16, 2010 at 6:36 pm
Memang tidak jarang kita berada posisi sulit mengambil keputusan.
tuteh
February 17, 2010 at 4:39 am
Jaman sekarang keputusannya harus tepat, cepat dan bermutu *halah* hehehe…
Winarto
February 17, 2010 at 5:32 am
Nice inpo gan
Agnes Sekar
February 17, 2010 at 5:43 am
Hallo Bali ! Di dalam suatu tugas apalagi sebagai Leader harus berani mengambil keputusan, include dengan perhitungan. Ia tau ada resiko di depan matanya, karena itu sudah memperhitungkan langkah-langkah apa saja untuk menghadapi resiko tsb. Seorang abdi negara yang profesional akan menghadapinya dengan keberanian, sebaliknya mereka yang pengecut cenderung akan menghindarinya. Terima kasih sharingnya, sukses untuk anda.
Regards, agnes sekar
uni
February 17, 2010 at 6:14 am
zemangat siang ^_^, trimakasih atas penjabaran dalam memutuskan sesuatunya, sangat membantu.
Yunus
February 17, 2010 at 6:39 am
Bagaimana caranya mempertajam feeling atau intuisi, apa dengan banyak coba-coba saja atau adakah langkah-langkah yang sistematis ?
Andry Sianipar
February 17, 2010 at 6:54 am
Salam super-
Yes,tentunya ada langkah langkah yang sistematis.bahkan bisa dipelajari.Dan memang ada disiplin ilmu yang terkait dengan teori pengambilan keputusan.
adiarta
February 17, 2010 at 7:07 am
Membuat suatu keputusan, tidak selalu eksak seperti matematika. Karena yang membuat keputusan itu adalah manusia yang selalu dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan…
Syahroyni
February 17, 2010 at 8:24 am
Nice info mas . . .
memang betul2 blog pemasaran dan bisnis . .
salam sukses selalu . .
Dinoe
February 17, 2010 at 9:08 am
Nice artikel mas….sangat bermanfaa dan bisa jd bahan pertimbangan ketika kita akan mengambil keputusan…
mikekono
February 17, 2010 at 9:25 am
sulit atau tdk
dalam membuat keputusan
selain tergantung nyali..
juga terpulang pada
sejauh mana wewenang
dan power yg dimiliki…..
serta karakter seseorang
buktinya, ada yng sudah
menjadi orang paling menentukan,
tp tetap jg lamban membuat keputusan
ch0c0
February 17, 2010 at 10:13 am
makasih atas masukannya mas
Agus Siswoyo
February 17, 2010 at 11:15 am
Kalau saya, mengambil keputusan dengan tetap berdasarkan logika dan mendengar kata hati nurani.
fir'aun ngeblog
February 17, 2010 at 11:26 am
smille post!!!
setiap orang memiliki perhitungan masing2 dalam berpikir dan memberi keputusan. sebab di setiap kebijakan selalu melahirkan keuntungan bagi satu pihak dan kerugian di pihak lainnya. Hanya orang yg kuat (posisinya) lah yg berani memberi keputusan.
Ok, trim’s atas posting baiknya
arkasala
February 17, 2010 at 4:28 pm
terima kasih atas tipsnya ni Mas, kadang saya juga terjebak dalam kesulitan untuk membuat sebuah keputusan.
Trims.
Salam
ipul
February 18, 2010 at 3:53 am
keputusan memang no 1 dalam semua aspek.keputusan dengan mufakat adalah yang utama dan dipertanggung jawabkan bersama2
eliana
February 18, 2010 at 8:39 am
hi,,thanks for visiting my blog,,
well, this is also my first visit on ur amazing blog..
i love visiting ur place..
add me to ur new friend’s lists
hv a very nc day.
julie
February 18, 2010 at 9:48 am
berkunjung ke rumah sahabat
Ata chan
February 18, 2010 at 10:56 am
…
Semakin tinggi jabatan semakin berpengaruh besar pula keputusannya..
..
matanaga
February 18, 2010 at 11:46 am
yes, just do it..!
keputusan yg sesuai dgn sistematis kinerja selalu bermanfaat
jika keputusan sepihak, belum tentu
salam super..!
muhammad zakariah
February 18, 2010 at 12:22 pm
menurut saya mengambil keputusan itu sulit, karna pasti akan mambawa resiko yg besar klo tidak dipikirkan baik-baik. presiden kita saat ini aja ragu2 dalam mengambil keputusan, terkesan penakut dan plinplan.. klo presidennya seperti itu bgmn rakyatnya dlm menentukan putusan? *lho koq gak nyambung.. hehe..
Laksamana Embun
February 18, 2010 at 2:04 pm
Thanks infornya sobat..
Salam knal
edratna
February 19, 2010 at 12:25 am
Tulisan menarik..betapapun, mau tidak mau, setiap hari kita dihadapkan pada keputusan-keputusan. Bahkan tidak mau memutuspun merupakan sebuah keputusan
antok
February 19, 2010 at 6:11 am
tulisan nya sangat bermanfaat
memang sulit banget jika kita harus membuat keputusan dengan cepat dan akurat, waktu kuliah dulu juga dapat teori pengambilan keputusan heh
berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasih
antok
February 19, 2010 at 6:11 am
wah comment ku masuk ke spam nuyyy tolong yaw di approve hehe
nisa
February 19, 2010 at 6:19 am
saya paling enggak bisa buat keputusan…. makasih tulisannya ^^
mbah jiwo
February 19, 2010 at 9:28 am
bli, jujur aku pengen ngopi gambar di atas. Yg jadi header, tapi kok ga bisa dikopi ya?? Kalau di view image, jadi keluar gambar lainnya…
Minta dong *ngarepbanget…
Salam Hangat dari MALANG.
Codet
February 19, 2010 at 10:29 am
Mau tak mau kita semua harus jadi leader, bikin keputusan, setidaknya untuk hidup sendiri. Tips di atas membantu sebagai referensi. Thanks.
Idi suwardi
February 19, 2010 at 11:31 am
Bagi saya membuat suatu keputusan itu cukup sulit mas, apa lagi menyangkut kepentingan bersama.. Oiy, makasih udah mampir di blog saya.
Ricky
February 19, 2010 at 3:29 pm
Bila sudah membuat keputusan maka kita harus berani dengan konsekuensinya..
sukses!
Agus
February 19, 2010 at 3:52 pm
Kadang yang terpenting dalam keputusan adalah berani mengambil resiko mas..
mh
February 20, 2010 at 1:30 am
kudu berlatih keras untuk berani ambil keputusan, apalagi soal bisnis dan pasangan hidup, betul bli?
ipul.web.id
February 20, 2010 at 3:51 am
keputusan lah yang akan menentukan akhir dari segala sesuatu
mycorner
March 5, 2010 at 12:13 pm
Katanya sih harus pake data kalau ngambil data, jadi kalau salah masih dalam range yang ok… masalahnya datanya ngak ada
E oya eyo.. kembalikan Baliku padaku.. ingin ke Bali nih…
agoenk70
March 6, 2010 at 5:33 am
thx yah buat share nya.. bagus neh artikelnya
Cara Dapat Uang
March 7, 2010 at 11:45 am
membuat keputusan itu memang sulit sekali.Itu bisa merugikan orang lain pula dengan keputusan yang kita buat.
Lyna Riyanto
March 26, 2010 at 8:06 am
Itulah konsekuensi. Ketika sebuah amanah jabatan diterima.
Resiko buruk dari sebuah keputusan bisa diminimalisir, ada banyak cara yang bisa dilakukan agar resiko minimal bisa dicapai.
Terima kasih tips yng ke tiga
Tidak Harus Perfect , tapi Efektif dan Tepat Waktu
Kadang saya terkurung dalam pola Harus perfect
Ini kadang membuat sulit saya