Di mana pun, di perusahaan apa pun, banyak kita mendengar keluhan tentang atasan. Sudah lazim saya mendengar keluhan: ”Mengapa kita saja sih yang diberi anjuran seperti ini. Atasan kitalah yang perlu mendapat anjuran ini”. Atau ” Anda bisa tidak menyampaikan hal yang Anda katakan tadi kepada atasan kami juga?”
Hubungan atasan – bawahan akan dirasakan sebagai neraka bila ada ’ketidakcocokan’. Tidak jarang individu berencana mengundurkan diri bila ia merasa akan terus berada dibawah bimbingan atasan tertentu. Di lain pihak, banyakkah individu yang kemudian benar-benar mengambil langkah mundur karena alasan atasan tertentu? Tidak juga. Pada dasarnya bawahan tidak bisa memilih atasan, sementara atasan lebih bebas memilih bawahan. Mau tidak mau bawahanlah yang harus menyesuaikan diri dengan bagaimanapun kondisi atasan. Sebagai bawahan, dapatkah kita me-manage hubungan menjadi mesra?
Teman saya ’curhat’ dan mengatakan bahwa atasannya sangat alergik dengannya. Saya perhatikan memang atasan tersebut lebih cepat naik darah bila dia berbuat salah ketimbang rekan lainnya. Usul saya padanya adalah untuk meningkatkan komunikasi, dengan cara konsisten meng-update laporan, baik yang positif maupun negatif pada atasannya. Semula ide ini ditolak olehnya, dengan alasan: ”Ah, nanti saya dikira menjilat atasan dan dituduh teman sebagai tukang mengadu”. Setelah diyakinkan bahwa komunikasi, baik laporan negatif dan positif sangat berguna bagi atasan, ia pun mencobanya. Cara ini ternyata berhasil. Hubungan atasan dan teman saya berubah menjadi mesra. Jelas terlihat bahwa bawahan pun bisa mengontrol dan merubah situasi.
• Belajar Cara Menyampaikan Informasi
Atasan punya banyak cara berkomunikasi. Dari pengamatan saya, bawahan sering tidak merasa penting untuk menyesuaikan cara berkomunikasi. Atasan yang ”mobile”, misalnya, tidak sempat membaca laporan yang berlembar-lembar. Seni berhubungan dengan atasan adalah mengupayakan sedemikian rupa agar komunikasi ’sampai’ pada atasan. ”Saya lebih suka di sms, bila ada hal yang harus saya putuskan”. Preferensi atasan ini yang perlu ’ditemukan’ dan dipelajari oleh bawahan. Dalam penyampaian informasi, bawahan juga perlu belajar membuat kerangka presentasi yang komprehensif. Gunakan ”magic words”, kata-kata berbobot positif, walaupun dalam berita terkandung informasi yang negatif.
• Pelajari ”Likes and Dislikes” Atasan
Keluhan mengenai atasan yang menganut faham ”likes and dislikes” bisa dijawab santai: ”So what?”. Setiap orang mempunyai ”likes and dislikes”. Ini manusiawi. Setiap orang mempunyai nilai, prioritas, keluatan kelemahan dan keahliannya masing-masing. Setiap atasan juga mempunyai preferensi pertemanan.
Kita sebenarnya bisa menganalogikan situasi ”likes and dislikes” dengan rasa nyaman. Atasan bisa merasa tidak nyaman terhadap situasi tertentu dan tentunya ia tidak akan menyukai bila di bawa ke situasi tersebut. Atasan pun mempunyai kebutuhan akan rasa aman, nyaman dan kesuksesan. Bila Anda membantu atasan untuk merasa nyaman dengan peran Anda di bawah pimpinannya, dan memastikan bahwa peran Anda memberi kontribusi pada kesuksesannya, ia pasti akan bersikap lebih terbuka dengan Anda.
• Jangan Harap Atasan Bertanggung Jawab Terhadap Hubungan Atasan – Bawahan dengan Anda
Wewenang dan kekuasaan atasan yang lebih besar, sering dipersepsi bawahan sebagai kekuatan untuk menghukum, dan berlaku tidak “fair” ke bawahan. Hal ini juga disertai anggapan bahwa atasan-lah yang harus bertanggungjawab untuk membina hubungan baik dengan bawahan. Sebaliknya, kita perlu melihat bahwa tanggung jawab atasan lebih besar, tugasnya lebih sulit, sehingga hubungan mesra dengannya lebih efektif bila diupayakan dari pihak bawahan.
• Bantu Atasan Meraih Sukses
Ingat bahwa Anda dan atasan berada dalam satu tim. Sukses atasan adalah sukses Anda. Kerelaan Anda terhadap kesuksesan atasan, akan terasa olehnya. Biasanya atasan berada dalam posisi yang terisolasi, sehingga ia kekurangan masukan.. Jangan biarkan atasan Anda bersikap acuh tak acuh dengan teknologi, penampilan, dan cara berkomunikasinya. Seorang atasan baru perlu di ”brief” mengenai rahasia umum yang beredar di lingkungan kerja, dan cara cara informal yang biasa dilakukan diluar prosedur standar perusahaan. ”Brief” bawahan seperti ini bahkan akan menghasilkan hubungan saling percaya dan nyaman di tim Anda. Upaya untuk menjadi bagian dari solusi atasan adalah hal yang paling efektif untuk membina hubungan atasan – bawahan.
• Jangan Harap Hasil Segera
Membina hubungan mesra dan saling percaya butuh waktu. Perubahan sikap atasan tidak terjadi dalam sekejap. Saat mengupayakan peningkatan kematangan dan kedewasaan diri dalam hubungan atasan – bawahan, kita perlu bersabar untuk menunggu reaksi positif atasan.
Artikel Terkait
97 Comments
Trackbacks/Pingbacks
- Andrea's Blog » Kenali Gejala Pelecehan Psikologis - [...] pernah punya atasan, yang di dalam rapat kerap ’membuktikan’ bahwa anak buahnya ’lagi-lagi’ tidak berprestasi, [...]






pertamax mas dari pulau jawa ke pulau bali
naik apaan Rif ???
gunakan kata-kata yang indah untuk mendapatkan pujian dari bos dan memang harus bersabar dalam mewujudkan sebuah impian…
Memangnya sudah praktek dik…?
wkwkwkwkwk blm punya bos
Salam super-
kalau begitu kita semua tinggal menunggu untuk “ditemukan”.
ditemukan oleah Bos yang baik, Perusahaan yang amanah, adn Posisi yang membesarkan,meninggikan dan menguatkan.
yang penting jangan jadi penjilat aja
hal ini masih menjadi polemik dalam lingkup tertentu. bawahan memang mempunyai posisi tidak di unutngkan dibandingkan atasan.
satu yang vital disini adalah teknik berkomunikasi. distorsi yang terlalu banyak setidaknya di kikis dan di ganti dengan orientasi yang lebih produktif
mantapss..
Kalau sudah bisa memposisikan atasan sebagai partner, maka pasti team work semakin optimal (karena terbebas dari rasa sungkan, takut salah, dsb.) tetapi atasan juga harus mengerti, seiring dengan besarnya kewenangan dia atas bawahannya berarti semakin besar juga tanggung jawab dia untuk bisa bekerjasama dengan bawahannya.
Saya rasa, jenis atasan yang “semena-mena” justru harus lebih sering dapat pelatihan tentang team work
Membuka pikiran orang lain, apalagi atasan, bisa jadi suatu tantangan tersendiri. Selain komunikasi, biasanya atasan yang memahami konsep user champion akan siap menghadapi dinamika.
Maaf, komentar anda di blog saya menyerupai spam.
Untungnya atasan saya penuh pengertian & tidak “killer”, jadi saya masih aman-aman saja. Tips yang bagus!
membaca postingan ini saya jadi berpikir apakah saya sudah berpartner dengan bos saya. so far memang belum, mgkn krn bos jg orangnya kurang dekat ya.
kunjungan balik om…
iyah, intinya dibina terus n semuanya gak instan ^^
Kalau saya, atasan adalah teman….
Kunjungan perdana nich.
Salam knal buat anda, sukses slalu buat anda!
Ditunggu kunjung baliknya!
saya paling ndak suka atasan yang tidak pernah memperhatikan aspirasi anak buah, atau hanya percaya pada orang2 tertentu yang dasarnya suka menjilat. tips ini cukup bermanfaat utk membangun komunikasi yang bagus antara atasan dan bawahan.
Tips yg sangat menarik Pak,…. Kadang kenyataan dilapangan masih banyak kita temukan “pemimpin” yg ga mau tahu dengan bawahan, memposisikan bawahan sebagai “anak buah” bukan sebagai partner.
Wah menarik nih Mas Andry, sebagai bawahan kita dapat membuat perbedaan atas hubungan dengan sang boss, jadi nggak selamanya boss itu menakutkan. Tapi bagaimana kalo kita jadi boss yah…..
Salam very super Mas….
Baru kali ini saya bisa sampai di blog Bang Andry ini. Saya sangat senang sekali. Dulunya, berkali2 saya coba tak bisa2…
“Membina hubungan mesra dan saling percaya butuh waktu”. Ini inti poko yang saya lihat. Banyak orang yang tak sabar dalam hal ini, hingga terjebak pada arus tak sehat, didorong dan bermuara pada kepentingan belaka…
Nice tips!
artikel yang sangat menarik, terima kasih telah diberi kesempatan menimba ilmu di sini
2 arah komunikasi selain horisontal kita juga harus membangun komunikasi vertikal ..dengan begitu ada interaksi positif antara kita dengan atasan …nice tips bos
biasanya atasan sulit memposisikan diri menjadi teman, dalam konteks pekerjaan , artikel ini menarik untuk masukan yag lebih membangun mas…
selamat siang…
mohon izin untuk kunjungan balik…
Suppeerrr Sekali tips yang diberikan….
Salam Super
SMN#3082
hmm… memang menarik… problemnya adalah bagaimana kalau bos kita selalu menghalangi perkembangan bahkan terlalu menekan potensi. karena problem ini saiyah selalu merasa tertekan dalam tiap pekerjaan yang dibebankan dan bahkan potensi dan keceriaan yang selalu saya miliki diluar tiba tiba padam begitu berhadapan dengan si bos… mohon dibuatkan artikelnya ya… trims before…
hakim
tips yang bermanfaat makasihh
berkunjung n ditunggu kunjungan baliknya
yang penting punya atasan yang disegani, bukan atasan yang ditakuti..
Komunikasi dibangun dari ketulusan dan butuh proses utk melakukan secara optimal.
Hubungan yg harmonis seharusnya dijalin atas rasa percaya,tanpa curiga,dan kepentingan sesaat.
Salam super,salam hangat,dan salam kenal kembali buat Mas Andry.
Wah Artikel yg sangat inspiratif kang, sallam Hangat dari Jakarta
bener bgt. kuncinya komunikasi, konsolidasi, koordinasi, mirip teknologi fly by wire F16 Fighting Fighter, kalibrasi terus menerus. artikelnya bagus & informatif, mudah dimengerti… ^_^
kalau buat saya,,,,My bos is my friends….
Atasan harus bijak, bawahan juga harus tanggap apa yang diinginkan atasan. Jadi nantinya akan tercipta tim yang kompak dan harmonis.
Tips sangat menarik, mudah-mudahan bisa berguna bagi saya dan pembaca blog mas andry lainnya. Hehe
memangnya niat kerja nanti mas Nur ???
Bli atau lay neh….
Kita tdk pernah tahu akan seperti apa karakter bos, bawahan atau kolega kita. Kalau mereka terkait dgn proses kerja kita, enaknya perlakukan saja mereka sperti pelanggan kita… pasti hubungan akan enak deh….
Bagus artikelnya
Salam dahsyat
Salam persahabatan juga dari Bogor
Hmmm… good tips, thanx.
super big hug for you
thx info dan tipnya freee
kunjungan balik andry
pengen banget ke bali
mudah2an des tahun ini jadi sudah booking villa
nice info, kayanya juga bisa berlaku untuk hubungan yang lain
iya nih gan, tp sayangnya sy kepengen jadi bosnya =))
Boss dan karyawan adalah hubungan simbiosis mutualisme yang diharapkan akan saling melengkapi dan menguntungkan. Bukan sebaliknya, yang satu makin sukses dengan mengorbankan pihak lain.
beneng !!!
Kunjungan perdanaaaa….
Tips yang bermanfaat banget nih. semoga saja nanti bosa sayah ga galak2.
beeeeuh, headernya. mantap. jadi pengen ke bali pas liat header blog ini. keren bli.
bos dijadikan partner… kalo partner dijadiin bos bisa gak yach ??? komennya gak nyambung nih
wow… thanks buat artikelnya….
senang rasanya bisa bertemu dengan blogger bali…
artikel ini mantep banget nih.. pas bgt dengan kondisi gw saat ini..thanks alot bro..
Waaaa… salam kenal ya
makasih udah kunjungi blog saya. Btw soal bos2an ini… kalo saya sih melihat bos-nya dulu. Kalo emang bos-nya itu fleksibel, orangnya asyik, ya oke2 aja… tapi kalo rada bikin ilfil, mending diem2 aja deh
yang penting semua kerjaan beres hehehe…
tips dan trick ngadepin bos bawel nih? hehe
wew.. nice artikel lae… and salam kenal
tujuan bos dan karyawan adalah sama2 memajukan bisnis,,jd kudu saling bekerja sama…salam kenal dari “Reog City, Ponorogo”…
waah..tips nya oke ne, saya coba praktekin yaa
salam kenal dari pulau bali juga
Kunjungan balik bos….
kalo bos dan anak buahnya bisa jadi partner beneran mah, enak dah hidup…. gak ada yang namanya maen belakang…
yang namanya bos ya partner kita kalau bekerja. kalau gak ada bos, ya gimana bisa bener kerjanya. sama kayak kepala sekolah dan murid. gak ada kepala sekolah, muridnya belajar dibimbing sama siapa?
thanks udah main ke blog gw. main lagi juga boleh
salam gantenggg dari diazhandsome
Perlu kesabaran,komunikatif dan enerjik saat menghadapi atasan.Jangan mudah menyerah saat diremehkan atasan perbaiki kekurangan atasi setiap permasalahan kerjaan kita seoptimal mungkin.tunjukan kelebihan kita secara proposional..
salam mas andry…