2010
2010 archive
Saya tiba tiba terinspirasi untuk membahas topik ini setalah beberapa hari yang lalu,saya sempat berdiskusi ringan dengan seorang Pebisnis yang juga seorang teman baik saya di Bali. Awal perbincangan bermula ketika kita membahas tentang Marketing Ethics yang saat ini kami nilai sudah sangat berkembang dan mulai menunjukkan trend positif. Konsumen yang semakin pintar dan kritis, seperti “memaksa” para pelaku Bisnis dan Pemasaran agar lebih luwes dan lebih elegant dalam melakukan praktek praktek Pemasaran . Sehebat apapun produknya,kalau “Integrated Marketing-nya” tidak solid akan cepat “dilupakan” juga oleh Pasar. Lalu,apa yang membuat sebuah Brand bertahan (bisa)begitu lama di benak konsumen dan mendapatkan “kue Pasar” yang cukup besar ? maka sesuatu itu disebut dengan : R-E-P-U-T-A-S-I
Sebentar lagi kita akan mengatakan “goodbye” pada tahun 2010 yang akan segera kita lalui. Suka atau tidak suka, inilah hasil yang kta dapat dipenghujung tahun. Kalau ada yang masih bisa diperbaiki,segeralah perbaiki. Hari minggu yang lalu,saya tiba tiba ditelpon oleh seorang teman lama yang kebetulan sedang berada di Bali untuk melakukan “sedikit” survey karena beliau akan membuka cabang restaurant baru di seputaran Jimbaran,Bali. Teman saya yang merupakan pengusaha restaurant ternama dari Jakarta ini tampak antusias sekali dengan pasar kuliner yang “tidak pernah padam” dan akan terus bertambah jumlahnya ( bertambah pula jumlah competitor tentunya ). Tapi itu bukan masalah serius , bertambahnya jumlah peluang pasar dibarengi bertambahnya jumlah pesaing adalah hal yang biasa dalam dunia Bisnis.
Ternyata banyak hal yang apabila kita “renungkan“ secara mendalam, bisa menjadi sesuatu yang “ berharga“ dan menjadi sesuatu yang memorable. Disetiap Penghujung tahun akan ada dua kelompok besar, yang pertama kelompok yang “bersorak” karena pencapaian-pencapaian nya tahun ini berlangsung secara gemilang dan bersiap kembali menyambut tahun baru dengan beragam “cita-cita“ baru. Lalu,kelompok kedua yaitu yang tidak terlalu peduli dengan prestasi nya yang belum tercapai ,malah akan di deklarasikan kembali agar tercapai di tahun depan. Saya tidak mengatakan bahwa kelompok kedua tidak lebih baik dari kelompok pertama,semua orang punya “kekuatan” dan “keterbatasan” nya sendiri. Setelah kemarin kita bicara banyak mengenai Marketing Conversation dan Engagement Marketing ,kali ini kita akan bicara mengenai sesuatu yang lebih Practical. Saya lebih senang menyebutnya sebagai The Psychology Of Selling.
Seminggu belakangan ini Saya banyak sekali menerima email dari teman teman yang saya tangkap sebagai bentuk “kegelisahan” dan banyak pertanyaan yang practical dan hanya bisa diselesaikan oleh diri mereka sendiri – bukan oleh orang lain – . Namun ada beberapa teman juga yang dengan semangatnya menceritakan “pencapaian – pencapaian “ besar mereka di tahun 2010 ini. Seorang teman di Jakarta malah sangat menggembirakan Karena bias membeli mobil baru sekaligus sebidang tanah di Depok. Saya jadi seperti merasakan semangat yang membara ketika mendengar berita- berita yang membahagiakan tersebut. Dipenghujung tahun 2010 ini, suka atau tidak suka, kita harus “mengkalkulasi “ apa saja yang telah tercapai dan belum tergapai.Setiap bangun Pagi dan menghirup udara segar Bali, saya selalu meyakini kalau setiap hari adalah sebuah bentuk perjuangan yang baru.
Istilah ini sengaja saya ambil memang untuk mewakili trend saat ini yang memungkinkan para Pebisnis dan Marketing melakukn percakapan langsung dengan pelanggannya secara langsung meski terpisah oleh zona wilayah dan waktu. Saya tidak mengatakan ini sebagai model Pemasaran terbaru , apa yang saya pahami justru ini adalah sebuah bentuk bagian dari Inovasi di kehidupan kita dewasa ini. Jika kita sedikit melihat kebelakang, justru Bisnis-bisnis yang berskala kecil atau dalam lingkup ekonomi mikro justru bisa jadi menjalin conversation yang lebih akrab dengan Pelanggannya dengan biaya marketing yang sedikit atau bahkan nyaris tanpa biaya.
Ada beberapa hal menarik yang saya jumpai di penghujung akhir tahun 2010 ini,dari sekian banyak informasi yang datang dan menghampiri saya atau juga yang memang sengaja saya cari , secara singkat saya menyimpulkan kalau sekarang ini paradigma masyarakat kita sudah mulai bergeser ke-arah yang cukup baik.Yaitu mulai tumbuhnya kesadaran untuk sebisa mungkin membangun lapangan kerja dan menjadi Juragan atas dirinya sendiri.Dan saya dengan senyum yang sangat optimis tentu menyambut baik hal tersebut. Ini merupakan secuil bukti bahwa masyarakat kita sudah lebih sadar dan mandiri mengenai pentingnya “menciptakan” peluang peluang bisnis baru di Indonesia. Tentu saja harapan jangka panjangnya adalah kita sebagai bangsa bisa lebih memiliki nilai jual yang sejajar atau bahkan lebih tinggi dibandingkan Negara Negara lain, sebab kita memiliki sumber daya yang sangat potensial untuk bisa terus berkembang dan menghasilkan produk produk yang sangat berkelas.
Menjelang akhir tahun seperti sekarang ini, banyak dari kita yang “dikejar” dead line mengenai resolusi resolusi yang pernah terucap di awal tahun 2010 lalu. Tapi saya pikir ini masih bagus lho. Parahnya ada sebagian dari kita yang justru “terkesan” santai terhadap resolusi yang pernah terucap, malah bersiap untuk “mengikrarkannya” lagi di awal tahu depan – sebenarnya dengan inti yang sama namun kemasan bahasa yang berbeda – . Banyak rangkaian pengalaman pengalaman hebat dalam hidup saya setahun ini. Saya “dipertemukan” takdir dengan orang orang yang saya bisa belajar banyak dari mereka. Ini juga yang mendorong saya untuk terus belajar dan menjadi “gelas kosong “ setiap bertemu dengan para professional yang begitu tinggi nya integritas mereka terhadap bidang bisnisnya masing masing .
Ditengah kesedihan yang melanda kita karena berbagai bencana mendera tanah air.Banyak ucapan belasungkawa dari berbagai penjuru negeri bahkan sampai ucapan dari berbagai elemen dan Pemimpin dunia.Bantuan juga mulai berdatangan dan mengalir ke tempat tempat bencana.Semoga semua menghadirkan hikmah yang baik untuk bangsa ini. Kebetulan juga dibulan ini disela sela aktivitas,saya masih menyempatkan diri untuk terus “mencerna” pemikiran-pemikiran baru yang sekiranya bisa saya bagikan untuk Anda semua.
Setelah kemarin kita bicara banyak mengenai motivasi bisnis dan pentingnya membangun aliansi bisnis , kali ini kita akan bicara tentang seberapa berharganya existing customer Anda saat ini. Seminggu yang lalu,saya menerima email dari seorang teman di kebetulan sedang berada di Singapore untuk beberapa minggu. Ia bercerita banyak tentang beberapa analisa pendek terkait dengan cara pandang bisnis dan pemasaran para pebisnis disana. Dan saya pun dengan sangat senang membalas email – emailnya dengan sederet pertanyaan pula,dengan harapan semakin mendapatkan pemahaman yang lengkap dan bisa saya bagikan kepada teman teman ditanah air.
Pernah mendengar istilah “bersekutu tambah mutu” ? itu adalah semboyan Negara tetangga.Ketika saya berniat menulis artikel ini entah kenapa kalimat tersebut seperti mewakili apa yang hendak saya sampaikan. Di artikel sebelumnya saya sudah pernah membahas mengenai pentingnya membangun community. Kali ini saya akan membahas lebih tajam lagi,sekiranya apa saja manfaat membangun sebuah Aliansi bisnis.Dalam bahasa sederhana Aliansi bisnis dapat diartikan sebagai sebuah “perkongsian” yang melibatkan beberapa bidang bisnis dalam satu “business line” yang masih sama, namun spesifikasi produk atau jasa nya berbeda.
Lama juga saya berbincang dengan beberapa teman disela-sela kesibukan kami di Bali. Dan saya termasuk yang beruntung karena setidaknya bisa terus menggali pengetahuan dan mendengarkan pengalaman teman teman pebisnis yang sudah lama terjun di tengah semakin dahysatnya persaingan bisnis baik dalam lingkup industry yang sama atau bahkan dalam lingkup yang lebih variatif dan berskala besar. Kali ini perbincangan kami menyoroti mengenai “geliat” pebisnis muda di Indonesia. Dia akui atau tidak,ini merupakan sebuah perkembangan positif dan merupakan angin segar ketika kita mendengar khabar baik dari media cetak ataupun media elektronik lainnya bahwa saat ini banyak tumbuh perguruan tinggi yang berfokus pada penciptaan entrepreneur-entrepreneur baru. Belum lagi kita sudah banyak mendapati para pemuda Indonesia mulai berpikir untuk tidak hanya menjadi “pekerja” tetapi mereka sudah mulai merintis agar menjadi juragan atas diri sendiri. Setidaknya ada beberapa hal kuat yang bisa mndorong seseorang untuk akhirnya memutuskan untuk menjadi entrepreneur.
Tingkat pertumbuhan sebuah bisnis banyak dipengaruhi oleh faktor faktor pendukung mau pun faktor-faktor penghambat nya. Belum lama ini saya baru saja dari sebuah seminar di Bali mengenai “ Market trend Research di tahun 2011 “. Menarik sekali acara tersebut,saya juga bertemu dengan teman teman baru yang memiliki banyak pengetahuan Bisnis yang lebih “mumpuni” dibandingkan saya.

