Multi Profession Management

Posted by on Nov 26, 2009 in motivational | 27 comments

multi taskingMempunyai beberapa pekerjaan sekaligus ? Harus mengerjakan tugas yang menuntut keahlian profesi yang berbeda ? Banyak tugas rangkap sehingga harus lapor ke lebih dari satu atasan ? Mungkinkah ? Apa resikonya dan bagaimana menyikapinya jika kita menghadapi kondisi semacam ini ?


Mengapa Harus Punya ‘banyak’ Pekerjaan ?

Mungkin kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin menjalani beberapa pekerjaan bila saat ini kita sudah sangat kelelahan dengan satu pekerjaan saja. Banyak orang akan berpikir dua kali untuk mengatakan ‘ya’ jika ditawari pekerjaan lain yang sama-sama menyita waktu. Jika menyatakan setuju, berarti perlu memberikan upaya ekstra untuk menuntaskan seluruh pekerjaan.

Namun jika diperhatikan, kondisi semacam ini semakin banyak dialami oleh karyawan, termasuk kita sendiri. Jenis pekerjaan yang beragam dengan deadline yang ketat, keterlibatan kita pada beberapa proyek kerja sekaligus, atau bahkan harus menjalankan beberapa tugas yang menuntut keahlian yang sebenarnya bukan profesi utama kita.

Tampaknya sekalipun lebih berat, banyak orang tetap mampu menangani berbagai jenis pekerjaan semacam ini, bahkan secara sengaja mencari kesempatan untuk mengerjakan hal-hal lain di luar rutinitasnya. Dengan terlibat dalam proyek lintas departemen misalnya, seseorang otomatis akan mempunyai tanggung jawab lebih besar. Beban kerjanya jelas bertambah, dan mungkin ia juga harus mempertanggungjawabkan hasil kerja kepada ‘atasan kedua ‘(dimana standar penilaiannya juga bisa berbeda), dan ia juga dituntut untuk belajar hal-hal baru. Sungguh hal yang tidak mudah, namun mengapa justru kondisi pekerjaan semacam ini menarik bagi sebagian orang ?

a.       Memacu Motivasi Pribadi

Banyak orang merasa puas apabila berhasil menangani tugas yang lebih banyak dan lebih beragam, selama seimbang dengan pengakuan yang diberikan perusahaan atau atasannya. Kondisi yang rutin atau monoton bagi sebagian orang dianggap tidak menantang, dan akan menurunkan semangat kerja. Dengan keberhasilan yang diraih, motivasi seseorang juga akan semakin bertambah.

b.       Menambah Kompetensi

Dengan bertambahnya ragam pekerjaan, otomatis mendorong karyawan untuk belajar lebih banyak hal baru, yang akan menambah pengetahuan atau ketrampilannya. Kompetensi terus terasah seiring dengan intensitas dan kompleksitas tugas yang diemban, dan hal ini merupakan salah satu alasan orang mencari ‘pengayaan’ dalam pekerjaan, atau lebih dikenal dengan ‘job enrichment’.

c.       Menambah Jaringan Relasi

Keterlibatan dalam beberapa proyek atau tugas terkadang menuntut interaksi yang lebih luas daripada sekedar bekerja rutin. Perluasan relasi juga bisa menjadi alasan mengapa seseorang bekerja lebih keras, apalagi jika dari sini ia bisa mendapatkan pengakuan sosial yang lebih baik.

d.       Memanfaatkan Kesempatan Selagi Bisa

‘Kesempatan tidak datang dua kali’ adalah ungkapan yang sering kita dengar. Tidak banyak orang ditawarkan kesempatan untuk mendapatkan variasi tugas, atau kesempatan untuk mendapat pengakuan yang lebih besar seiring dengan beban yang bertambah. Begitu ada tawaran, mengapa tidak dicoba saja ?

e.       Kuntungan Finansial

Tidak semua penambahan beban kerja diiringi dengan peningkatan pendapatan, walau kadang kita bisa saja mendapatkan bonus atas keberhasilan yang diperoleh. Namun sejalan dengan bertambahnya keahlian dan pengalaman, setiap orang berharap bisa memperoleh penghargaan yang lebih tinggi di waktu mendatang. Walaupun tidak selalu mengutamakan materi, peningkatan pendapatan seringkali diharapkan oleh sebagian besar orang yang bekerja.

Tanpa memikirkan segi keuntungan dan kerugian memiliki beban kerja yang beragam,  dewasa ini, istilah ‘multitasks’ memang sudah menjadi hal yang umum dibicarakan orang di lingkungan pekerjaan. Bahkan jarang sekali perusahaan memberdayakan karyawannya hanya untuk satu jenis tugas saja. Tidak heran jika proses seleksi atau rekrutmen karyawan kadang menjadi tampak rumit, karena karyawan tidak hanya dituntut untuk bisa tampil optimal di pekerjaan saat ini, namun juga potensial untuk dikembangkan ke tugas lain yang lebih kompleks nantinya. Tuntutan ini sejalan dengan harapan berkembangnya perusahaan di masa depan.

Sekalipun sudah umum diberlakukan di berbagai perusahaan, sistem kerja multitasks ini tetap perlu dicermati resiko atau konsekuensinya. Tidak semua orang siap dibebankan sistem kerja semacam ini, sehingga  penting bagi kita untuk bisa mengantisipasinya agar seluruh pekerjaan tetap berhasil dengan baik.

Apa Saja Resiko Yang Mungkin Terjadi ?

a.       Penilaian Tidak Jelas

Tidak adanya target dan standar penilaian yang jelas karena tugas yang beragam, apalagi jika peran kita tidak secara spesifik ditetapkan di awal, pada akhirnya hanya akan menimbulkan kelelahan dan ketidakpuasan. Pada dasarnya kita tetap butuh pengakuan dan penilaian yang jelas sesuai usaha yang kita keluarkan.

b.       Sulit Menetapkan Prioritas

Makin banyak tugas, seringkali kita bingung menentukan mana yang harus didahulukan, karena semua pihak menuntut hasil yang cepat dan baik. Kita cenderung bekerja serabutan sesuai tuntutan yang datang, dan hasilnya pun cenderung tidak tuntas.

c.       Koordinasi Tim Kerja Kurang Lancar

Dengan makin banyak koordinasi dengan pihak lain, komunikasi mutlak diperlukan. Perbedaan standar dan persepsi seringkali terjadi, baik antar anggota tim maupun dengan atasan dari masing-masing pekerjaan. Kemungkinan tugas menjadi ‘overlapping’ pun bisa terjadi. Tanpa komunikasi yang baik, akan sulit mendapatkan hasil yang maksimal dan akhirnya justru menimbulkan ketidakpuasan bagi masing-masing pihak.

d.       Beban Kerja Tidak Realistis

Apabila kemampuan atau energi yang dimiliki tidak sebanding dengan beban yang diberikan, tentunya usaha untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan akan sangat besar. Jika beban kerja tidak realistis, pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas keseluruhan. Keberhasilan yang dicapai juga belum tentu akan bertahan lama karena setelah itu pasti akan ada lagi tuntutan yang lebih besar.

e.       Stress Berlebihan

Setiap pekerjaan mempunyai target dan deadline, dan apabila tidak bisa ditangani dengan baik maka seseorang akan selalu kehabisan waktu dan tidak bisa merasakan kesenangan dari pekerjaannya. Perasaan cemas atau kekhawatiran yang berlebihan bisa menimbulkan stress, sehingga pada akhirnya pengayaan pekerjaan tersebut tidak lagi memberikan manfaat.

f.        Kehabisan Waktu Untuk Pribadi

Masih terkait dengan soal waktu, tidak jarang orang menyalahkan pekerjaan sebagai hal yang menyita waktu pribadi mereka, akibat dari ketidakmampuan mengatur prioritas dan waktunya. Tidak adanya keseimbangan antara kehidupan kerja dengan pribadi tentunya akan memberikan dampak kurang baik untuk kehidupan jangka panjang seseorang.

Begitu banyak konsekuensi apabila kita tidak bisa menyikapi beban kerja yang beragam semacam itu. Sebetulnya, ada cara jitu agar hal-hal tersebut di atas tidak sampai terjadi.

Langkah-langkah Mengantisipasi Konsekuensi Negatif

a.       Perjelas target & standar yg diharapkan

Untuk setiap tugas yang diberikan, pastikan kriteria keberhasilan atau standar yang diinginkan untuk mengetahui hasil kerja kita sudah sesuai atau belum. Dengan begitu, kita bisa memperkirakan strategi kerja dan menyesuaikan usaha (effort) untuk mencapainya nanti. Kita pun bisa mengevaluasi kinerja kita sendiri secara lebih spesifik. Selain itu, akan lebih mudah bagi kita untuk mengklarifikasi jika ada masalah atau situasi kerja yang tumpang tindih dengan pihak lain.

b.       Tetapkan prioritas pekerjaan / profesi yang dijalani

Dengan target yang banyak, akan sulit memenuhi semuanya secara bersamaan atau dengan kualitas yang sama sempurnanya. Pastikan prioritas masing-masing tugas. Jika standar harapan atasan sudah jelas, kita juga bisa menentukan bobot kontribusi kita dan menegaskan seberapa besar komitmen kita terhadap setiap pekerjaan. Bertindaklah realistis. Meskipun kita ingin menguasai banyak hal, dianjurkan untuk tetap memiliki fokus utama kerja daripada mengambil seluruh tanggung jawab secara sama besarnya.

c.       Komunikasikan kesanggupan kepada atasan atau tim kerja

Untuk setiap target kerja, bicarakan kesanggupan kita secara terbuka kepada si pemberi tugas, atasan atau rekan satu tim. Jika dirasa tidak realistis, negosiasikan deadline atau standar kualitas yang diminta, agar kualitas kerja keseluruhan tetap terjaga. Jangan takut terlihat tidak mampu, karena yang bisa mengukur kemampuan kita adalah kita sendiri.

d.       Buat target-target & jadual kerja jangka pendek

Selalu merasa kehabisan waktu ? Mungkin kita belum mengelola waktu dengan tepat. Buatlah target-target jangka pendek, dimana dari sini kita bisa menghitung beban harian, juga mengetahui realistis tidaknya suatu pekerjaan. Selain itu kita bisa mengantisipasi masalah yang mungkin muncul.

e.       Alokasikan beban kerja tertentu kepada orang lain

Jangan ragu mendelegasikan tugas yang kita tidak sanggup selesaikan sendiri, atau minimal berkoordinasi agar pekerjaan bisa selesai lebih efisien. Sedapat mungkin delegasikan tugas yang bisa memberikan manfaat atau nilai tambah bagi orang lain, dengan tetap memperhitungkan kapasitas orang tersebut. Akan lebih baik jika hal ini sudah kita antisipasi lebih awal pada saat membuat perencanaan, agar tidak membebani orang lain di tengah proses kerjanya.

f.        Gunakan waktu seoptimal mungkin

Walaupun sudah membuat rencana dan skala prioritas secara mendetil, kedisiplinan tetap menjadi faktor terpenting untuk menuntaskan suatu pekerjaan. Hindari menunda pengerjaan tugas, dan berusaha lebih cepat bertindak. Dengan makin beragamnya beban kerja, kita harus makin pandai menjaga atau meningkatkan motivasi kerja.

g.       Koordinasi intensif dengan rekan kerja

Komunikasi juga penting untuk menghindari situasi overlapping dalam menjalankan tugas yang bermacam-macam. Selain ditegaskan dalam komitmen di awal, koordinasi dan proses monitoring harus tetap berjalan agar tidak terjadi saling menyalahkan, karena bisa berakibat pekerjaan tidak terselesaikan pada waktunya. Selain itu, kondisi ini bisa berdampak pada iklim kerja kelompok.

h.       Minta feedback dari atasan & rekan kerja

Setelah kita berusaha menyelesaikan satu pekerjaan, mintalah masukan atau penilaian dari atasan atau rekan kerja terkait. Hal ini penting untuk mengetahui apakah kita sudah mendapat manfaat dari tugas-tugas tersebut, ? Apakah ada kemajuan dalam hal kinerja atau kompetensi diri ? Apakah yang masih harus kita perbaiki ? Intinya, selain untuk mendapatkan pengakuan, kita bisa menilai proses belajar selama ini dan mencermatinya sebagai antisipasi di waktu mendatang.

Perlu Berpikir dan Bertindak Secara Bijak

Seberapapun beban kerja yang kita miliki, kita harus bisa mengenali ambisi kita,  kemampuan dan kondisi yang menghambat maupun menunjang, sehingga pada akhirnya segala upaya yang kita lakukan bisa berhasil optimal. Ambisi yang besar harus diimbangi dengan kesadaran bahwa kita memang sanggup menjalankannya. Kesadaran di sini tentunya dengan memperhitungkan kemampuan kita sendiri, motivasi, faktor lingkungan, serta segala konsekuensi yang mungkin terjadi (baik positif maupun negatif).

Setelah memiliki sasaran yang sudah diperhitungkan secara realistis, barulah kita mengatur langkah pencapaiannya dengan program yang jelas. Setiap usaha yang kita canangkan seharusnya sudah diantisipasi dengan baik, sehingga bisa meminimalkan hambatan dan memudahkan kita tampil seoptimal mungkin.

Yang tidak kalah penting, menjaga motivasi yang penuh untuk mewujdukan setiap sasaran yang ada. Terkadang semangat kita muncul di awal namun mengendur di tengah tugas, terlebih jika situasi semakin sulit. Tetaplah berpikir secara tenang dan rasional, kembalikan kepada sasaran semula mengapa kita mau menjalankan semua ini. Evaluasi diri perlu dilakukan sejalan dengan proses kerja, dan bukan hanya di akhir. Dengan demikian kita akan tetap terbuka dan siap menghadapi kesulitan yang lebih besar.


27 Comments

  1. wah, thanks bangetz nich buat ilmu managementnya…..
    saya sangatz suka nich mas ilmu managementnya, karena saya aja milih ilmu IPS di SMA saya and pelajaran favorit saya adalah ekonomi….

    • Posting yang bagus,Mas. Mudah2n banyak yg terbantu mengatasi masalah multy job yg saat ini bgtu sering terjadi.

      Btw, mas, saya dah Add link mas di blog saya, tapi saya liat, belum ada tuch link blog saya di sini. Kali aza boleh ikut dipasang link. Blog Mas dari lama sudah saya pasang.

      Thx

      • ea bagus … namun saya sendiri masih kebinungan jika ditanya apa target dan standar yang telah ditetapkan, selama ini hanya mampu mengerjakan apa yang mungkin dikerjakan …

        • mungkin Mas Andry juga bisa jelasin nih tentang adanya ungkapan fokus? apakah hal ini tidak kontradiksi istilah fokus? karena saya juga pernah mendengar seseorang berkata bahwa untuk sukses kita harus fokus, dan ketika kita sudah sukses pada satu bidang, maka hal ini akan merambah pada kesuksesan bidang yg lain. Dan saya juga mengamati bahwa hal ini benar, saya ada teman (bukan teman dekat, sekedar tahu saja) dia seorang penyanyi lokal, dia tekuni itu dan karirnya sukses, setelah sukses dia bisa merambah kesuksesan yang lain, bukan hanya bidang tarik suara saja, tapi belakangan ini dia juga menulis buku.

          Mohon dijelaskan Mz … sesuatu yang tampak kontradiksi ini, yaitu antara fokus dengan multiple Job ini … thanks salam CINTA … :)

  2. artikel yang benar-benar panjang :)
    hohohoho tapi bermanfaat sekali dalam ilmu management neh :)
    kalo seperti ini…
    1. kuliah
    2. kerja
    3. ngeblog
    4. bisnis offline
    itu kan sudah termasuk golongan multi profesi kan mas?
    soalnya saya merasa kesulitan juga nih dalam management semuanya…
    stres berlebihan juga :)
    tapi artikel inisedikit membantu saya :)

  3. wew … bener=bener mantab GAN … I like this “Tetaplah berpikir secara tenang dan rasional” …

  4. Terima kasih sekali nih saya membaca artikel ini yang paling tidak telah memberikan informasi yang bermanfaat. Kadang saya memagang 3 pekerjaan walau masih dalam sebuah grup perusahaan. Saya ijin print sekalian ya Mas. Terima kasih sekali lagi.
    Salam

  5. panjang kali artikelnya om??
    ahhha

  6. saya kok malah cenderung fokus pada satu bidang pekerjaan dan mengoptimalkannya, karena jika kita punya multi job , pekerjaan tersebut bisa jadi tidak bisa maksimal….

    Ngobrol Seputar Bisnis Online

  7. Itulah kelebihan manusia, diberi kemampuan untuk dobble job. Yang penting tetap fokus dan jangan sampai terbengkelai, bukan begitu?

  8. kalau fokus… salah masih fokus di offline saya…

    akibatnya … yang online gak ke update….

    yhanks sudah berkunjung gan….

    sekalian tukeran link ya

    sukses dah untuk anda

  9. multi job, keuntungan finansial pun bertambah, .
    mungkin nanti yah,
    masih kul, brarti multi tasking sekarang

  10. Artikel yang padat dan sangat berbobot. Jadi kenyang ilmu nih. :D Hidup adalah pilihan. Kita bebas memilih jalan apapun, asal dapat bertanggungjawab.

    Namun ada satu hal yang menjadi pegangan saya sejak dulu sampai sekarang. Saya teringat pesan Luciano Pavarotti sebelum meinggal: “Choose One Chair”. Pilihlah satu kursi untuk kau duduki. Artinya, fokus pada satu profesi akan lebih berdaya gana daripada meraih semua dalam genggaman.

    That’s what I’m thinking now… :D

  11. Mohon doanya aza dari rekan semua, agar dg Multi profession pun, tetap bisa SUKSES !!!

    Sukses selalu untuk Anda semua (juga saya, ya…)

    Salam YAKIN SUKSES !!!

  12. ya ampun panjang banget sob … butuh kesabaran nich … dan perlu berpikir serta bertindak Secara Bijak

  13. sepertinya saya setuju dengan yang terakhir, perlu berpikir dan bertindak secara bijak.

    kenali diri terlebih dahulu. siap-siap mengahapi rasa yang bercampur aduk ketika ada yang gagal di salah satu atau dua pekerjaan dari multi pekerjaan yang kita lakukan.

    saya pernah mengalaminya.

  14. Menunggu posting baru mas Andry…

  15. Kalau kita lihat banyak pekerjaan nih… konsentrasi akan bercabang, sehingga fokus kita kurang dan akhirnya tidak optimal hasilnya.. itu yang saya alami

  16. motifasi yg sangat berguna deh

  17. bagi pengalaman ya..!mantap selalu

  18. artikelnya panjang sekali…
    belum selesai baca tapi dah mau pulang dari warnet.
    Saya komen dulu, ntar dilanjutin baca.
    Tapi dari yang sudah saya baca artikelnya MANTAP !

  19. blog yang bagus..salam kenal ya

  20. Salam kenal lae, artikel ini sangat tepat dengan suasana / keadaan yang telah kualami beberapa waktu lalu, tentu saja, ini disebabkan kelalaianku dalam menjalankan / mengikuti rule-rule jadwal yang telah ku buat. Yah, intinya juga mendidik diri sendiri, agar kita patuh kepada jadwal yang telah kita buat sendiri. :D

    Horas!

  21. saya juga mengalami hal semacam itu.namun kapan saya bisa mengatasinya itu masih belum bisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>