Jadilah juragan bagi diri Anda sendiri

Posted by on Oct 5, 2009 in marketing | 8 comments

juraganSaya bertanya pada anak – anak kecil, bagaimana “gaya” seseorang yang bekerja sebagai bos bagi dirinya sendiri. Hampir semua anak, serta merta berkacak pinggang, seolah-olah menunjukkan “power”-nya. Ya, Wirausaha adalah “boss”!

Bila riset kecil ini kita lakukan terhadap sang wirausahawan, baik kecil maupun besar, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Bukan kacak pinggang yang ditampilkan, tetapi justru mengerutkan kening. “Pusing!”. Inilah umumnya reaksi spontan mereka. “Orang pikir jadi pengusaha bisa bebas dan bisa berbuat seenaknya”, ujar seorang wirausahawan. Pada kenyataannya, ia seolah tidak bisa memicingkan mata walau sekejap, karena masalah selalu mengintip dan ia harus selalu “waspada” mengantisipasi perubahan. Seorang “event organizer” muda yang menjadi kurus setelah menekuni usaha sendiri, mengatakan bahwa ia tidak bisa lepas dari kegiatan berjualan, pemasaran, kontrak, kepuasan pelanggan, kontrol kualitas. “Semua harus di kepala”. Jadi sebenarnya apa yang dikejar oleh para pengusaha muda ini? Apakah “kebebasan” yang mereka cari seperti yang dikemukakan kebanyakan orang?

Memelihara Greget

Banyak orang yang tidak bisa menghitung, apa penyebab dan latar belakang seorang wirausahawan bekerja tak kenal lelah siang dan malam, berpikir tidak berhenti, seolah “tidak ada matinya”. Seorang  wirausaha muda mengungkapkan, bahwa spirit yang dimilikinya banyak berangkat dari masalah dan tantangan. Dalam sebuah rapat dengan klien, ia merasa “terhina” ketika salah seorang peserta rapat berkata,”Masa Anda hanya memperdagangkan produk orang saja. Bikin dong…”. Sejak itulah, teman kita ini sibuk mendesain, menghitung, berkeliling mencari pemasok dan bereksperimen. “Bisa Anda bayangkan “puasnya” ketika saya berhasil. Bahkan, ketika sudah merasakan keberhasilan, kesempatan lain seolah terbuka lebar bagi obsesi dan ambisi kita”, demikian ucapnya.

Setiap wirausahawan juga punya inisiatif untuk memulai. Untuk memulai, mereka tahu bahwa mereka harus mengalami. Banyak wirausahawan memulai usahanya karena melihat dan mengalami inefisiensi, tidak efektifnya suatu sistem, produk ataupun servis, baik di perusahaan tempat ia bekerja atau di kehidupan sehari-hari. Seorang wirausahawan memulai usahanya karena tidak bisa menemukan makanan sehat yang terjangkau.  Ia berpikir dan berusaha keras, dianggap oleh orang di sekitarnya sebagi orang yang “aneh”, sampai akhirnya ia bisa sukses menjual produknya. Inilah titik balik di mana ia perlu menyadari gregetnya dan memulai risetnya.

Bekerja untuk diri sendiri dilatarbelakangi oleh kekuatan mental:“being in charge of your own destiny “. Seorang ahli psikologi, McClelland, (1953) yang penasaran dengan kualitas para wirausaha sukses ini menemukan unsur n Ach (need for achievement) yang tinggi pada para wirausaha. Seorang wirausaha sadar akan risiko, namun tidak takut gagal. Greget dan keyakinannya yang kuat serta stamina untuk mencapai sasarannya menyebabkan ia beranggapan bahwa kegagalan adalah bagian dari prosesnya menuju apa yang ia cita-citakan.

“Bisa” ketimbang “Punya”

Sumber keberhasilan seorang wirausaha juga banyak terletak pada motivasinya. Dorongannya untuk “bisa” melakukan, menemukan atau memberi nilai tambah pada produk atau jasanya biasanya lebih besar ketimbang motivasinya untuk sekedar “punya” bisnis atau mengeruk keuntungan sebesar – besarnya.

Jadi, komentar bahwa ”Si Budi sudah punya pabrik”, atau “Si Budi sudah naik Merci” tidak terlalu tepat untuk memecut seorang wirausaha. Wirausaha yang sukses biasanya akan berusaha untuk meningkatkan kecepatan, ketepatan dan kemudahan, tanpa cepat merasa puas. Kepuasannya terletak pada “good work”yang ia hasilkan. Mungkin beberapa di antaranya tidak mengenal istilah TQC ( total Quality Control), tetapi sudah menjalaninya dan menghayatinya tanpa belajar. Inilah latar belakang mengapa seorang wirausaha gudeg terkenal bisa menjaga namanya berpuluh tahun, seorang tukang reparasi sepatu bisa berhasil sampai membuka franchise reparasi tas dan koper.


“Fun “ vs “Hard Work”

Nasihat orangtua: “There”s always a price to pay”, disadari betul bagi para wirausahawan. Bila menjadi karyawan membuat orang merasa aman, misalnya bisa 100% yakin akan menerima gaji bulanan pada tanggal tertentu, seorang wirausaha justru harus menyiapkan gaji, THR, persediaan barang untuk melanggengkan bisnisnya. Bila di perusahaan kita perlu gigih mengusulkan ide kepada atasan, maka seorang wirausahawan menghadapi hal yang sama dalam konteks yang lebih luas. Ia harus gigih menjajakan produk dan jasanya. Pelangganlah yang melakukan penilaian langsung dan memutuskan untuk membeli. “The buck stops with you” kata seorang wirausaha sukses, kitalah penentu, pengambil keputusan, penghitung resikonya.

Hal yang juga sangat utama dalam berwirausaha adalah sikap terhadap uang. Seorang wirausaha tidak hanya tertantang untuk mendapat uang, tetapi  memutar bahkan menternakkan uang. Ia selalu perlu memikirkan upaya konservasi uang, menyediakan “cash cushion” baik untuk investasi ataupun emergensi. Hal inipun pada akhirnya dianggap oleh para wirausaha sebagai “game” dan sesuatu yang “fun”.

8 Comments

  1. Wirausahawan memang harus kuat. dan kreatif,
    karena untuk menjadi pengusaha harus mempunyai banyak ide, dan pemikiran yang matang. juga mempunyai manajeman yang baik.
    semua langkah harus terpikirkan.
    tapi semua juga harus ada kemauan.
    salam sukses selalu..
    Iklan Baris

  2. mantap bro, setuju banget nih jadi bos diri sendiri

  3. saya sependapat dengan Anda.
    sungguh pemaparan yang Anda sampaikan sangat komprehensif.
    saya akan share ke teman facebook saya.

  4. yang membedakan kita dengan para entrepreneur sejati adalah abagaimana kita menyikapi uang,bukan bagaimana meraihnya.

    terimakasih

  5. Mantap pak artikelnya… Semangat..

  6. Seperti kata pak Peterus G Hartono seorang pebisnis itu harus memiliki hal seperti akronim dari UANG = Usaha, Akal, Niat & Gairah

  7. Sebagai tambahan dari sy yg tidak ‘paham’ dunia usaha, tapi pernah menjalani sebagai juragan kelas teri …

    juragan yg sukses didunia wira usaha, juga al.
    kuat mental, tahu malu, punya motivasi, semangat, ‘tega’an …

    mohon maaf kalau sy yg kecil ini seolah sok tau, padahal semua tambahan tsb boleh jadi sudah diungkap pada tulisan diatas, tapi luput dari pengamatan mata ini.

    omong2
    menurut sy orang yg sukses dalam hal keuangan …
    bukan dari berapa banyak harta yg dimilikinya
    tapi seberapa mampu memanage keuangannya
    dirinya terutama keinginan tidak diperbudak oleh materi,
    tapi mampu memperbudak materi demi keinginannya.
    karena keinginan mampu berlari terlampau pesat melebihi materi yg dimilikinya.

    hmm sok tau lagi ya sy. mohon maaf orang ndeso ini sok pinter.
    sy ingin jadi juragan yg baik yg lurus, tapi kok malah melas ya.
    ya karena itu tadi, tambahan yg belum mampu termiliki

    Salam kenal. Nice blog.

  8. saya harus banyak belajar dulu ya sebelum benar2 bisa menjadi seorang wirausaha….masih banyak takutnya, termasuk takut menghadapi kegagalan itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>