Konsep WorkLife Balance

Posted by on Sep 17, 2009 in motivational | 1 comment

imagesKetika ditanya apa arti ‘work life balance’, seorang direktur perusahaan terkenal, menjawab, “Work life balance, bagi saya, adalah bila target penjualan tercapai 100%”. Jawabannya membuat saya tertegun. Lahhh kok, pekerjaan lagi, pekerjaan lagi? ”Apa pak direktur tidak memikirkan rekreasi? Atau kehidupan keluarga? Beliau lalu dengan santai memberi jawaban yang masuk akal,”Bila saya tidak mencapai kinerja yang baik, atau paling tidak mencapai target pekerjaan, maka mustahil saya bisa benar-benar bersantai dengan keluarga dan menikmati sisa hari saya


Ya, kita dapat merasakan betul bahwa tidak sukses di kantor akan berdampak negatif di rumah tangga atau kehidupan sosial, membuat orang tidak bertenaga, dan demikian pula sebaliknya. Seorang ibu yang gembira karena proposal pemecahan masalah yang ditawarkannya disetujui oleh atasan, akan pulang dengan rasa lega. Meskipun rapat yang dihadapinya tadi menguras tenaga, namun ia merasa punya enerji lebih untuk membimbing putra tercintanya yang sedang minta perhatian lebih karena besok akan ulangan. Sebaliknya, kita sendiri tahu betapa ‘bete’nya suasana hati karena urusan rumah bisa membuat kita tidak bertenaga di kantor, sampai-sampai teman kita bisa berkomentar, “Makanya, urusan rumah jangan dibawa-bawa ke kantor…” Nyata betul bahwa energi lebih memang berasal dari keseimbangan.


Keseimbangan Tidak Selalu Berbentuk Timbangan

Klien saya, seorang manajer senior di bank terkemuka, pernah mengeluhkan kesibukan pekerjaannya yang menyebabkan dirinya tidak punya waktu cuti sama sekali. Ia mengatakan bahwa jatah cutinya semenjak 2 tahun yang lalu masih utuh. Ketika saya berkomentar mengenai ‘berlibur di pekerjaan dan bekerja saat liburan’, beliau berkata, “Ya, itulah yang saya lakukan. Bersantai di kamar hotel dan sekedar menonton televisi sendirian selama berjam-jam, sehingga terasa sudah ‘mengosongkan pikiran’. Nah, bukankah kegiatan ini juga sudah termasuk “balancing”?

Bila kita bicara mengenai “worklife balance”, kita perlu mempertimbangkan berbagai aspek, di samping keluarga dan kantor saja. Ada ahli yang menggunakan istilah yang mudah diingat, yaitu S-P-I-C-E-S, untuk menggambarkan aspek-aspek worklife balance tersebut:

  • Social”: kehidupan keluarga, hubungan dengan orang lain, lingkungan, alam dan masyarakat ,
  • Physical”: kebugaran , gizi, kesehatan, dan santai
  • Intelectual”:penguasaan stres dan tekanan,pengembangan diri & profesional,


One Comment

  1. saya juga berpikir yang sama.
    keseimbangan dalam karir dan kehidupan justru akan meningkatkan kualitas hidup itu sendiri. benar khan ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>