2009
2009 archive
Mempunyai beberapa pekerjaan sekaligus ? Harus mengerjakan tugas yang menuntut keahlian profesi yang berbeda ? Banyak tugas rangkap sehingga harus lapor ke lebih dari satu atasan ? Mungkinkah ? Apa resikonya dan bagaimana menyikapinya jika kita menghadapi kondisi semacam ini ?
Ada kejadian menarik saat seorang teman , yang notabene adalah pengusaha muda di bidang distibusi alat komunikasi , datang dan mengeluh pada saya mengenai menurunnya volume penjualan selama tiga bulan berturut urut . Hal ini jelas mebuat ia terlihat agak depresi dan dihantui oleh kemungkinan gulung tikar.
Pernahkah kening anda berkerut dan merasa pusing karena melihat setumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan? Menghadapi marahan bos yang bertubi-tubi karena perfomansi anda kurang baik akhir-akhir ini? Sementara anda mulai bosan dengan rutinitas sehari-hari, enggan berangkat ke kantor dan rasanya ingin mengundurkan diri saja dari pekerjaan yang anda telah tekuni selama ini? Jika anda mengalami hal tersebut, jangan cepat-cepat mengambil keputusan yang nantinya anda sesali. Anda sedang mengalami burn out atau stress .
Mungkin anda masih ingat dengan sebuah iklan televisi, dimana seorang suami lupa menjemput sang istri yang telah selesai berbelanja. Ketika sang istri sampai di rumah, barulah si suami teringat ‘titah’ dari si istri untuk menjemputnya di supermarket. Kejadian seperti ini kenyataannya juga pernah (atau bahkan sering) dialami oleh kita, para profesional, yang tidak jarang disibukkan oleh banyak hal, mulai dari urusan pribadi, kantor, keluarga atau orang-orang di lingkungan kita. Kalau boleh excuse, lupa memang salah satu sifat manusiawi kita. Hanya saja, kalau terjadi di usia yang masih tergolong produktif, wah bisa bahaya! Jangan sampai kita terancam kehilangan prospek cerah dengan klien besar kita karena kita lupa nama, lupa menghadiri meeting atau lupa memberikan perhatian khusus pada hal-hal penting dari si klien pada saat proyek berjalan.
Siapa pun tentunya tidak suka dikomplain, karena pada dasarnya kita ingin bekerja dengan baik. Kapanpun dibutuhkan, apapun yang diinginkan pelanggan, memang semestinya kita bisa memenuhinya secara tepat, agar tidak sampai menerima ‘complaint’. Apa betul demikian ? Pada kenyataannya, akan selalu ada kekurangan dalam melayani orang lain, karena kebutuhan setiap orang tentunya berubah dari waktu ke waktu. Makin cepat kita mengetahui apa yang kurang, tentunya makin baik, terlebih jika kita mengharapkan hubungan yang tidak berhenti pada kebutuhan saat ini saja.
Negosiasi, kini menjadi sebuah keahlian atau kompetensi kunci dalam berbisnis. Perusahaan-perusahaan secara agresif memburu executive yang jago negosiasi dan rela untuk mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengasah karyawan yang ada untuk jadi negosiator ulung. Alasannya sederhana namun ‘dalam’, karena dalam setiap interaksi dan transaksi, khususnya dalam situasi bisnis, semua pihak ingin mendapatkan tawaran yang terbaik.
Kreativitas dikenal sebagai dominasi orang di dunia periklanan, marketing dan para artis. Para CEO hebat sering diidentifikasi sebagai orang yang melakukan terobosan, berani mengambil resiko, tetapi jarang sekali kita mengidentifikasikan si penerobos dan pembaharu itu sebagai orang yang kreatif. Akibatnya, kompetensi kreativitas ini kemudian di anggap bukan prioritas dalam dunia profesional, atau katakanlah tidak populer.
Saya bertanya pada anak – anak kecil, bagaimana “gaya” seseorang yang bekerja sebagai bos bagi dirinya sendiri. Hampir semua anak, serta merta berkacak pinggang, seolah-olah menunjukkan “power”-nya. Ya, Wirausaha adalah “boss”!
Bagaimana Menjalankan Prosedur sekaligus Membuat Pelanggan Happy?
Pelanggan sekarang tidak mau tahu. Tampak semakin mudah bagi mereka untuk mengancam meninggalkan pemberi jasa saat kebutuhannya tidak dapat dipenuhi. Bukan sekali dua kali kejadian pelanggan yang menjerit “Kalau Anda tidak bisa berikan jasa yang saya inginkan, saya akan ke toko sebelah!”. “Kenapa anda tidak bisa, sedangkan maskapai penerbangan lain bisa?”.
Kepercayaan sangat penting. Pentingnya begitu terasa terutama saat kita sudah berada dalam keadaan tidak dipercaya. Pada saat itulah kita betul-betul merasa bahwa kepercayaan itu tidak mudah didapat.
Maraknya karyawan berdagang di kantor, membuat sebuah perusahaan menetapkan larangan berdagang kecil-kecilan, melalui surat edarannya. Kemudian, timbul olok-olok karyawan yang mengatakan, “kalau berdagang besar-besaran, boleh dong?”
Di antara karyawan yang berdagang kecil-kecilan, ada seorang karyawan yang rajin sekali berdagang ‘bumbu pecel’. Yang tadinya hanya di seputar teman kantor, lalu berkembang menjadi temannya teman atau tantenya teman dan akhirnya menjadi buah bibir dan dipesan secara teratur oleh banyak orang. Kalau tadinya pesanan menggunakan ‘aiphone’ kantor secara diam-diam, dengan berkembangnya komunikasi kantor, pesanan datang melalui intranet.
Dalam sebuah rapat, dari hati ke hati saya bertanya kepada beberapa kolega, “Apa sih yang salah di perusahaan kita?“ “Apa yang kurang dari diri saya?”. Teman – teman ini langsung celingak – celinguk ke kiri dan kanan, lalu secara bercanda mengatakan “Ah, nanti saya dibilang cari muka”. Ada yang mengatakan tidak siap dan akan berpikir – pikir dulu. Seseorang bahkan berkata:”Wah, nanti Bapak marah”.

